Kemahiran Eksekusi dalam pengelolaan SDM
Dalam dunia perang, eksekusi adalah maksud yang dibarengi tindakan untuk menembakkan peluru ke arah lawan. Eksekusi bukanlah keputusan di atas kertas putih atau kertas mental tetapi pelaksanaan keputusan. Kalau ada lima ekor burung di hadapan kita kemudian kita putuskan untuk menembak satu ekor, maka burung itu masih tetap berjumlah lima ekor sebab maksud kita baru berupa keputusan belum eksekusi. Seorang tokoh samurai terkenal, Musashi, mendefinisikan eksekusi dengan ungkapan: "taking proper action in appropriate time" (bertindak pada saat yang tepat). Kemahiran eksekusi menjadi keahlian vital untuk mengetahui kapan saat yang tepat untuk melepaskan peluru, mendeteksi posisi lawan, dan bersembunyi. Pendapat Musashi tentang wilayah perang yang sedemikian berkabut sehingga menuntut keahlian eksekusi, menurut Jalaluduin Rumi (dalam Reynold A. Nicholson: 1993) merupakan hukum usaha yang intinya bergelut dengan kemungkinan antara gagal (meleset) dan sukses (mengenai sasaran). Dikatakan dalam sebuah syairnya yang jika diprosakan mengandung pengertian, kalau orang bertindak belum tentu berhasil tetapi kalau tidak bertindak pasti rugi karena ia tidak akan menemukan apapun.
Dari segi kita sendiri, selaku selaku eksekutor gagasan usaha (karir, bisnis, dll), sebenarnya apa yang dibutuhkan adalah penyiasatan dalam hal menciptakan pembekalan dan persiapan mental untuk memperkecil dampak kabut kemungkinan. Faktor-faktor yang merupakan pembekalan dan persiapan dalam meningkatkan kemahiran eksekusi dapat jelaskan sebagai berikut:
Kompetensi
Kalau merujuk pada acuan kemiliteran (Army Leadership: 2002), kemahiran eksekusi didukung oleh penguasaan empat wilayah (domain) keahlian yang terdiri atas: interpersonal (Interpersonal), konseptual (conceptual), tekhnis (technical), dan taktik (tactics).
1. Interpersonal
Interpersonal adalah kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain (networking skill). Dalam kaitannya dengan penyelesaian misi tidak cukup hanya dengan kenal, atau pertukaran kartu nama melainkan networking yang sudah mencapai level saling memahami: anda mengetahui orang yang mengetahui anda dan mengetahui apa yang harus dilakukan atas nama misi bersama. Peranan saling memahami di sini dimaksudkan dapat mereduksi potensi gap komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan level harapan, pengetahuan atau status.
Keahlian Interpersonal tidak dimiliki hanya dengan mendalami ilmu (the science) tetapi perlu penguasaan terhadap seni dalam menjalin hubungan (the art). Orang yang telah terasah di bidang ini biasanya sudah tahu apa yang tepat dilakukan kepada orang lain guna merealisasikan apa yang diinginkan dari orang lain untuk memperlakukan dirinya. Rata-rata keahlian Interpersonal didukung oleh penguasaan senbi berkomunikasi (the art of communication) dengan bahasa tubuh, lisan dan tulisan. Dalam praktek, menurut beberapa penelitian dan pendapat pakar psikologi sosial, penguasaan bahasa tubuh lebih berperan mempengaruhi bobot eksekusi. “Human relationships are established and developed MAINLY by non verbal signals, although words are also used (Winston Fletcher, MT: 2000).
2. Konseptual
Konseptual adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan doktrin dan ide yang berkembang tentang sebuah pekerjaan. Keahlian ini berfungsi untuk meramu bahan baku menjadi sebuah rumusan pekerjaan yang akan dieksekusi seperti layaknya seorang arsitektur. Keahlian konseptual yang dikuasai akan menentukan bentuk desain bangunan yang akan diselesaikan meskipun bahan baku yang digunakan oleh arsitektur ketinggalan zaman dan arsitektur yang tetap ‘in’ tidaklah berbeda jauh. Demikian juga dengan pekerjaan di kantor. Bahan baku yang akan dijadikan peluang umumnya tidak mengalami perbedaan signifikan: orang, informasi, perangkat, keadaan, dll, tetapi bagaimana peluang tersebut akhirnya dieksekusi sangat tergantung pada keahlian konseptual yang kita miliki.
3.
Tekhnikal
Keahlian tekhnikal atau teknis merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengoperasikan peralatan pekerjaan sesuai dengan bidang yang ditekuni. Keahlian tekhnikal berfungsi agar proses pengolahan informasi (pekerjaan) menjadi lebih cepat, lebih akurat dan lebih berbobot sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Keahlian teknis yang tidak seirama dengan sifat dan jenis pekerjaan membuat keahlian itu menjadi mubazir, tidak berguna, bahkan pemborosan. Keahlian tehnis erat kaitannya dengan penguasaan teknologi yang biasanya memiliki tingkat perubahan tertinggi mengalahkan temuan pengetahuan. Contoh: teknologi informasi seperti komputer hampir bisa dikatakan mengalami perubahan dalam ukuran minggu/bulan. Penyiasatan yang dapat dilakukan adalah membuat wilayah spesialisasi. Kalau bukan berprofesi sebagai IT rasanya tidak diperlukan memahami seluruh kode instruksi yang muncul setiap saat. Cukup memahami bagaimana menggunakan apa yang kita butuhkan.
4. Taktik
Keahlian taktik merujuk pada kemampuan bermain di lapangan (the art of playing). Kecanggihan gaya bermain dalam menjalani eksekusi di lapangan biasanya didukung oleh pemahaman lapangan (intuisi) dan pengetahuan faktual (interpretasi). Menurut hukum akumulasi keahlian taktik tidak dimiliki hanya dengan satu kali menjalani eksekusi tetapi buah dari proses pengasahan yang lama. Hukum akumulasi itu dapat kita artikan dengan kumpulan pengalaman kalah-menang yang kita maknai sebagai pelajaran hidup.
Karakter
Selain empat keahlian di atas, untuk menjadi seorang eksekutor yang jitu dibutuhkan karakter yang mendukung penyelesaian misi (tugas). Karakter adalah cahaya yang disinarkan dari tindakan kita. Dengan kata lain karakter merupakan inner strength yang menjelma dalam sebuah kekuatan bertindak. Kekuatan karakter berakar pada kepercayaan atau nilai (core of belief) yang dalam kaitannya dengan melatih kemahiran eksekusi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tidak berprasangka buruk
Nilai dasar dalam menjalin hubungan dengan manusia yang akan menjadi benih keahlian interpersonal adalah dengan memiliki prasangka baik lebih dahulu. Memang pada prekteknya tidak semua manusia pantas menerima predikat baik atau minimalnya baik-baik saja tetapi kalau dikalkulasi untung-ruginya, lebih untung berprasangka baik ketimbang berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk yang kita jadikan tesis lebih sering menghalangi sinar karakter yang sebenarnya kita miliki dan karena sinar telah redup maka membuat kita menjadi benar-benar tertipu. Padahal kalau mau jujur, hukum alam ini sering mendemonstrasikan dirinya, orang yang tertipu karena prasangka baik atas orang lain lebih enak hidupnya ketimbang orang yang menipu.
2. Kecerdasan
Semua orang memiliki kecerdasan yang intinya tidak digunakan secara optimal sebanyak yang dimiliki. Terhadap sosok jenius saja para ahli berpendapat kecerdasannya baru digunakan seperlima, apalagi orang umum. Faktor tunggal yang membatasi kecerdasan itu tidak lain adalah pembatas yang kita ciptakan sendiri dan kita persempit wilayah kerjanya hanya sebatas bangku di sekolah. Padahal kecerdasan berguna untuk menyeimbangkan antara kecurigaan terhadap orang lain dan prasangka baik terhadapnya. Kecerdasan juga berfungsi untuk menyeimbangkan antara berpikir global dan bertindak lokal; antara keahlian (konseptual dan technical) yang sudah kita butuhkan dan belum kita butuhkan.
3. Kesetiaan
Praktek sering mengajarkan, kesetiaan tugas yang terbatas pada kepentingan sesaat atau perubahan keadaan temporer sering membuat orang memiliki mentalitas bongkar-pasang pondasi personal/pekerjaan yang didasarkan semata oleh letupan emosi temperamental yang menolak, bukan menerima keinginan untuk menjadi lebih baik. Kalau praktek demikian terjadi berulang kali maka sudah terjadi perlawanan terhadap hukum akumulasi, bahwa sosok eksekutor yang ahli dihasilkan oleh pemupukan keahlian yang sifatnya kecil dan terus menerus.
Kesetiaan adalah rangkuman dari nilai hidup berupa kesabaran dan kegigihan menjalani proses ‘from nothings to everythings’. Tidak salah kalau ajaran kultural kita selalu menyarankan agar dalam situasi yang berkabut, kita disarankan untuk meminta pertolongan kepada kesabaran (kesetiaan pada prinsip) dan harapan menembus batas (optimisme nilai). Tanpa landasan nilai demikian, kabut-kemungkinan hidup ini bisa menumpulkan kemampuan eksekusi yang akan kita jalankan, alias menjadi tidak memfokus dan patah di tengah jalan.
Mengingat sedemikian luas wilayah kabut dan kemungkinan yang kita hadapi dalam hidup sehari-hari, uraian di atas hanyalah berperan setetes dari jumlah yang sebenarnya kita butuhkan. Untuk mengetahui kapan perlu kita tambah, ada baiknya kita mengingat perkataan Witson Churchill (Mantan PM Inggris): “Kesuksesan adalah kemampuan melangkah dari kegagalan ke kegagalan lain tanpa kehilangan semangat berjuang sedikitpun” (Lot of tries, lot of failures, but still action). Perasaan paling dalam sering mengajarkan bahwa semua yang pernah kita lakukan ternyata tidak berujung pada kesia-siaan meskipun saat itu kita memiliki prasangka yang salah. Semoga berguna.
Dikutip dari berbagai sumber
Kamis, 19 Juli 2007
Cara Efektif Dalam Memobilisasi Sumber Daya
Dalam banyak pernyataan formal atau pun non-formal, kita mungkin sudah seringkali mendengar pidato-pidato pejabat atau pun pimpinan perusahaan bahwa sumberdaya manusia atau human capital adalah asset utama organisasi yang dapat menggantikan dominasi asset modal seiring dengan pergeseran turbulansi global. Ditinjau dari kebenaran substansi materialnya, jelas pernyataan tersebut benar terutama di negara-negara di mana seluruh aspek kehidupan masyarakatnya memiliki kandungan pengetahuan tinggi. Henry Ford atau Walt Disney bahkan sudah sejak lama mengakuinya. Hal ini terungkap dalam ucapan: "You can dream, create and build the most wonderful place in the world but it requires people to make the dream a reality."
Tapi dalam kenyataannya, apakah anda sudah merasakan aplikasi pidato tersebut dalam pekerjaan sehari-hari? Atau dengan kata lain bagaimana relevansi dan validitasnya terhadap situasi konkrit yang anda geluti setiap hari? Jika kenyataannya pimpinan anda ternyata lebih gelisah ketika kehilangan mesin fotocopy ketimbang harus memecat anda, maka teks pidato tersebut tidak valid bagi anda. Lalu dimana sebetulnya letak kesalahannya? Jangan menyalahkan teks pidato, tetapi mulailah bertanya kepada diri anda, apakah selama ini anda menerima reward dari perusahaan atau orang lain karena anda bekerja keras atau karena anda menciptakan solusi dengan kecerdasan anda. Jika jawaban anda membuktikan bahwa reward diperoleh dengan cara mengeluarkan tenaga secara konvensional yang dikomandoi dengan cemeti jam kerja dan pembatasan tugas dan tanggungjawab atau bekerja berdasarkan instruksi semata, maka human capital seperti itu bagi organisasi lebih tepat disebut cost, bukan asset. Oleh karena itu dapatlah dimengerti jika seorang atasan tidak ragu untuk memecat anak buahnya.
Faktor Pembeda
Awalnya semua manusia diciptakan sama dalam hal sama-sama memiliki “The Basic Principle of Human Capital” dalam bentuk keunggulan dan keterbatasan hidup. Kemudian sedikit demi sedikit dibedakan oleh faktor-faktor kecil hingga akhirnya terjadi perbedaan diametral antara pencipta problem dan pencipta solusi; antara menjadi asset dan menjadi cost. Faktor pembeda tersebut tidak lain terletak pada bagaimana anda melakukan berbagai upaya untuk memobilisasi sumber daya yang anda miliki. Pada saat anda berhasil dalam memobilisasi sumber daya yang anda miliki, maka pada saat itu pula sumber daya anda akan menjadi asset suatu organiasi atau perusahaan bahkan bagi diri anda sendiri. Jika anda berdiam diri dan membiarkan sumber daya tersebut mencari celah kompensasi sendiri di lapangan maka dapat dipastikan bahwa asset tersebut dapat berubah ke dalam bentuk yang sama sekali tidak memiliki relevansi apapun dengan cita-cita, tujuan, target dan rencana anda. Dengan kata lain, selama potensi yang anda miliki tidak dimobilisasi dengan baik dan hanya menunggu nasib baik menghampiri anda maka potensi tersebut tidak akan pernah menjadi asset. Oleh karena itu, buanglah jauh-jauh pendapat bahwa pembeda itu berupa nasib, takdir, atau apapun namanya sebab nasib atau takdir tidak merasa dirinya pembeda seperti yang anda pahami.
Beberapa Kiat
Untuk dapat memobilisasi human capital anda, ada baiknya anda ikuti cara-cara berikut ini:
1. Menggunakan
Human capital adalah anda dan kehidupan yang anda miliki. Tidak saja sebatas keunggulan bahkan keterbatasan andapun bisa menjadi keunggulan ketika anda menemukan jawaban dari why di balik lipatan what bahwa nothing happens by accident; atau ketika anda telah menemukan pemahaman baru dari sesuatu yang biasa dilihat oleh anda dan orang lain sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tetapi terus-terang sumber daya tersebut masih berupa potensi dasar yang menunggu tombol aktivasi untuk di-ON-kan atau ibarat Gold yang menunggu sentuhan Gold Mind supaya memiliki nilai jual yang fantastis. Dalam teori Electrical Engineering, potensi dasar masih berupa potential energy dan agar menjadi actual energy, maka harus diaktifkan terlebih dahulu. Ibarat battery, selamanya tidak akan menciptakan setrum yang menghasilkan cahaya kalau tidak diaktifkan. Sindiran bijak mengatakan: “Pengetahuan yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”. Artinya pohon tersebut lebih berupa beban daripada asset. Sama halnya dengan potensi dasar yang anda miliki. Tanpa sentuhan kreativitas, kecerdasan, ketahanan, dan kegigihan mengasahnya, maka keberadaannya adalah beban. Tidak sedikit contoh yang bisa anda saksikan. Banyak ornag yang frustrasi bukan karena perlakuan keadaan tetapi tidak ada yang cocok untuk dilakukan terhadap keadaan tersebut meski ia memiliki begitu banyak potensi. Potensi dasar yang dimiliki semua manusia sangat variatif tergantung dengan disiplin atau pendekatan yang digunakan. Dasar pengembangan diri dimulai dari keyakinan ilmiah bahwa di dalam diri anda sudah diciptakan kemampuan untuk memiliki job skill dan mental skill. Management SDM diawali dengan keyakinan ilmiah bahwa anda memiliki software skill di samping juga hardware skill. Anda punya potensi dasar mulai dari fisik, mental, emosional, intelektual, spiritual, material, visual, moral, atau akses eksternal. Anda hanya tinggal menentukan manakah di antara potensi tersebut yang menjadi keunggulan anda. Menggunakan human capital identik dengan upaya mencerdaskannya melalui proses belajar (learning), bukan sekedar sentuhan pendidikan baik formal atau non-formal. Artinya learning adalah proses mengubah ketidakmampuan masa lalu menjadi bentuk kemampuan baru. Learning bukanlah seperti mengisi kerancang yang kosong supaya penuh tetapi seperti menyalakan api. Learning juga merupakan penemuan sebab-sebab atau faktor yang membedakan antara sesuatu yang berakhir dengan kesuksesan dan kegagalan. Atau secara singkat bisa disimpulkan bahwa learning adalah sebuah proses realisasi gagasan secara bertahap berdasarkan perkembangan kemampuan anda.
2. Menjadikan
Masalah hidup yang nilainya mungkin sama besar dengan persoalan jodoh adalah sebutan apakah yang kelak bakal anda sandang. Sebutan dan pasangan hidup, menurut Dale Carnegie merupakan dua hal yang anda peroleh setelah menempuh proses pemilihan secara benar. Alasannya sangat jelas karena keduanya akan menjadi tempat di mana anda mencurahkan energi pengabdian. Semua bayi dilahirkan ke dunia tanpa sebutan atau embel-embel apapun, sampai ia bisa menggunakan keunggulan human capital yang dimiliki dengan menempuh proses hukum petani kemudiann barulah sebutan atau embel-embel tersebut diberikan. Oleh karena itu sebutan tidak dimiliki oleh mereka yang hanya dimotivasi kepentingan jangka pendek dengan dalil logika perut. Pakar psikologi, termasuk Dr. Maxwell Maltz mengistilahkannya dengan Identity (identitas). Ia mengatakan: “One of the things person hold most important is the identity, - that they will behave in accordance with the definition of themselves or their self-image. Tugas anda adalah menciptakan identitas diri dengan menggunakan human capital. Hidup tanpa identitas yang didasarkan pada penggunaan human capital diistilahkan oleh Mark Twin bagai neraka yaitu ketika Tuhan telah menganugerahkan visi yang jelas dalam satu paket human capital tetapi dihambur-hamburkan, dan prestasi yang seharusnya bisa diraih gagal diperoleh karena selam hidup tidak melakukan tindakan apapun. Setelah anda menggunakannya dengan cara dan di dalam hal yang tepat berarti proses terciptanya identitas diri sedang berlangsung . Misalkan anda memiliki potensi postur fisik bagus. Jika anda melatihnya dengan cara-cara yang ditempuh para atlet sesuai disiplin yang ada lalu anda menggunakannya di bidang keolahragaan, maka sebutan atletik sangat rasional bakal anda sandang. Sampai ketika anda tidak menjadi seorang atletik pun karena alasan-alasan khusus, dunia sudah membenarkan langkah anda. Atas dasar sebutan inilah anda akan menerima reward dari orang lain yang oleh para pakar pengembangan pribadi disebut “to attract success” bukan “to pursue” yang memiliki implikasi memakan cost lebih tinggi.
3. Memberikan
Seorang dokter disebut dokter bukan ketika ia menerima sertifikat kedokteran tetapi ketika ia memberikan benefit medis kepada pihak-pihak yang menjadi pasiennya. Seorang businessman disebut pebisnis ketika telah memberikan benefit bisnis kepada customernya. Tokoh bisnis international, Peter Drucker pernah menuturkan: "the purpose of business is to create customer". Artinya benefit bisnis tidak lain adalah berupa solusi atau sesuatu yang membuat orang lain merasa beda. Besar-kecilnya nilai benefit bagi customer akan menciptakan rate of return setimpal bahkan lebih atas sebutan anda. Maka berjasalah tetapi jangan minta jasa. Bagian dari hukum yang mengendalikan dunia ini adalah The Law of Paradox, (John Heider dalam The Tao of Leadership, London: 1986). Salah satu dari bentuk paradoks tersebut adalah bahwa jika anda memberi tidak berarti kehilangan melainkan mempunyai. Tetapi sayangnya paradoks tersebut berlaku pada level realitas esensial yang diistilahkan agama dengan invisible value, atau menurut Reg Regan, penemu Action Learning, disebut sebagai Reflection yaitu new understanding about something. Realitas esensial adalah realitas hikmah di mana keberadaannya ditutupi sekian data, atau fakta. Maka jangan heran, ketika anda tidak bisa beramal dengan harta, jiwa atau ilmu, bisa jadi beramal dengan senyuman pun sulit. Persoalannya bukan pada apakah anda memiliki atau tidak tetapi semata karena realitas yang anda huni. Dunia ini mengandung lapisan realitas yang bisa dikastakan menjadi lapisan permukaan, lapisan tengah, lapisan dalam. Setiap lapisan memiliki dalilnya masing-masing. Dalil lapisan permukaan bukan berbunyi memberi berarti mempunyai tetapi untuk mempunyai harus dengan cara mengambil dari orang lain, bahkan kalau perlu dengan paksa. Sang pujangga, Ronggowarsito, menggambarkannya dalam “Zaman Edan”. Dalam zaman edan tersebut, kalau anda tidak ikut-ikutan edan, anda menjadi sendirian tanpa bagian. Tetapi, lanjut Ronggowarsito, jangan lupa di balik realitas permukaan itu masih terdapat realitas esensial yang berdalil: “sehebat-hebat anda menggunakan cara merampas untuk mendapatkan hak, maka tidak akan melebihi kehebatan jika anda memperolehnya melalui jalan memberi solusi". The power of giving seringkali dilupakan karena nafsu egoisme yang kuat untuk mendapatkan. Hal ini seringkali membuat orang mengabaikan cara-cara yang pantas dalam mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu, temukan cara ilmiah dan wajar untuk mendapatkan sesuatu kalau anda mengharapkan kasta realitas yang terhormat. Cara tersebut adalah business of selling dengan menciptakan paket pelayanan solusi bagi manusia lain yang membutuhkan sesuai dengan sebutan/identitas yang anda miliki. Jangan lupa, paket pelayanan solusi tidak sekedar tahu atau pernah belajar, tetapi dalam bentuk tindakan nyata.
Dengan pemahaman terhadap cara-cara memobilisasi sumber daya yang dimiliki diharapkan bahwa anda akan mampu mengaktualisasikan diri secara optimal baik dalam pekerjaan maupun dalam persoalan hidup sehari-hari. Dengan jumlah penduduk negeri ini yang demikian besar maka alangkah besar potensi yang kita miliki. Oleh karena itu mari kita bersama-sama merubah potensi tersebut menjadi asset. Mari memulainya dari diri kita sendiri. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat bagi kehidupan anda.*****Swara SKJM HS 5258
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber.
Dalam banyak pernyataan formal atau pun non-formal, kita mungkin sudah seringkali mendengar pidato-pidato pejabat atau pun pimpinan perusahaan bahwa sumberdaya manusia atau human capital adalah asset utama organisasi yang dapat menggantikan dominasi asset modal seiring dengan pergeseran turbulansi global. Ditinjau dari kebenaran substansi materialnya, jelas pernyataan tersebut benar terutama di negara-negara di mana seluruh aspek kehidupan masyarakatnya memiliki kandungan pengetahuan tinggi. Henry Ford atau Walt Disney bahkan sudah sejak lama mengakuinya. Hal ini terungkap dalam ucapan: "You can dream, create and build the most wonderful place in the world but it requires people to make the dream a reality."
Tapi dalam kenyataannya, apakah anda sudah merasakan aplikasi pidato tersebut dalam pekerjaan sehari-hari? Atau dengan kata lain bagaimana relevansi dan validitasnya terhadap situasi konkrit yang anda geluti setiap hari? Jika kenyataannya pimpinan anda ternyata lebih gelisah ketika kehilangan mesin fotocopy ketimbang harus memecat anda, maka teks pidato tersebut tidak valid bagi anda. Lalu dimana sebetulnya letak kesalahannya? Jangan menyalahkan teks pidato, tetapi mulailah bertanya kepada diri anda, apakah selama ini anda menerima reward dari perusahaan atau orang lain karena anda bekerja keras atau karena anda menciptakan solusi dengan kecerdasan anda. Jika jawaban anda membuktikan bahwa reward diperoleh dengan cara mengeluarkan tenaga secara konvensional yang dikomandoi dengan cemeti jam kerja dan pembatasan tugas dan tanggungjawab atau bekerja berdasarkan instruksi semata, maka human capital seperti itu bagi organisasi lebih tepat disebut cost, bukan asset. Oleh karena itu dapatlah dimengerti jika seorang atasan tidak ragu untuk memecat anak buahnya.
Faktor Pembeda
Awalnya semua manusia diciptakan sama dalam hal sama-sama memiliki “The Basic Principle of Human Capital” dalam bentuk keunggulan dan keterbatasan hidup. Kemudian sedikit demi sedikit dibedakan oleh faktor-faktor kecil hingga akhirnya terjadi perbedaan diametral antara pencipta problem dan pencipta solusi; antara menjadi asset dan menjadi cost. Faktor pembeda tersebut tidak lain terletak pada bagaimana anda melakukan berbagai upaya untuk memobilisasi sumber daya yang anda miliki. Pada saat anda berhasil dalam memobilisasi sumber daya yang anda miliki, maka pada saat itu pula sumber daya anda akan menjadi asset suatu organiasi atau perusahaan bahkan bagi diri anda sendiri. Jika anda berdiam diri dan membiarkan sumber daya tersebut mencari celah kompensasi sendiri di lapangan maka dapat dipastikan bahwa asset tersebut dapat berubah ke dalam bentuk yang sama sekali tidak memiliki relevansi apapun dengan cita-cita, tujuan, target dan rencana anda. Dengan kata lain, selama potensi yang anda miliki tidak dimobilisasi dengan baik dan hanya menunggu nasib baik menghampiri anda maka potensi tersebut tidak akan pernah menjadi asset. Oleh karena itu, buanglah jauh-jauh pendapat bahwa pembeda itu berupa nasib, takdir, atau apapun namanya sebab nasib atau takdir tidak merasa dirinya pembeda seperti yang anda pahami.
Beberapa Kiat
Untuk dapat memobilisasi human capital anda, ada baiknya anda ikuti cara-cara berikut ini:
1. Menggunakan
Human capital adalah anda dan kehidupan yang anda miliki. Tidak saja sebatas keunggulan bahkan keterbatasan andapun bisa menjadi keunggulan ketika anda menemukan jawaban dari why di balik lipatan what bahwa nothing happens by accident; atau ketika anda telah menemukan pemahaman baru dari sesuatu yang biasa dilihat oleh anda dan orang lain sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tetapi terus-terang sumber daya tersebut masih berupa potensi dasar yang menunggu tombol aktivasi untuk di-ON-kan atau ibarat Gold yang menunggu sentuhan Gold Mind supaya memiliki nilai jual yang fantastis. Dalam teori Electrical Engineering, potensi dasar masih berupa potential energy dan agar menjadi actual energy, maka harus diaktifkan terlebih dahulu. Ibarat battery, selamanya tidak akan menciptakan setrum yang menghasilkan cahaya kalau tidak diaktifkan. Sindiran bijak mengatakan: “Pengetahuan yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”. Artinya pohon tersebut lebih berupa beban daripada asset. Sama halnya dengan potensi dasar yang anda miliki. Tanpa sentuhan kreativitas, kecerdasan, ketahanan, dan kegigihan mengasahnya, maka keberadaannya adalah beban. Tidak sedikit contoh yang bisa anda saksikan. Banyak ornag yang frustrasi bukan karena perlakuan keadaan tetapi tidak ada yang cocok untuk dilakukan terhadap keadaan tersebut meski ia memiliki begitu banyak potensi. Potensi dasar yang dimiliki semua manusia sangat variatif tergantung dengan disiplin atau pendekatan yang digunakan. Dasar pengembangan diri dimulai dari keyakinan ilmiah bahwa di dalam diri anda sudah diciptakan kemampuan untuk memiliki job skill dan mental skill. Management SDM diawali dengan keyakinan ilmiah bahwa anda memiliki software skill di samping juga hardware skill. Anda punya potensi dasar mulai dari fisik, mental, emosional, intelektual, spiritual, material, visual, moral, atau akses eksternal. Anda hanya tinggal menentukan manakah di antara potensi tersebut yang menjadi keunggulan anda. Menggunakan human capital identik dengan upaya mencerdaskannya melalui proses belajar (learning), bukan sekedar sentuhan pendidikan baik formal atau non-formal. Artinya learning adalah proses mengubah ketidakmampuan masa lalu menjadi bentuk kemampuan baru. Learning bukanlah seperti mengisi kerancang yang kosong supaya penuh tetapi seperti menyalakan api. Learning juga merupakan penemuan sebab-sebab atau faktor yang membedakan antara sesuatu yang berakhir dengan kesuksesan dan kegagalan. Atau secara singkat bisa disimpulkan bahwa learning adalah sebuah proses realisasi gagasan secara bertahap berdasarkan perkembangan kemampuan anda.
2. Menjadikan
Masalah hidup yang nilainya mungkin sama besar dengan persoalan jodoh adalah sebutan apakah yang kelak bakal anda sandang. Sebutan dan pasangan hidup, menurut Dale Carnegie merupakan dua hal yang anda peroleh setelah menempuh proses pemilihan secara benar. Alasannya sangat jelas karena keduanya akan menjadi tempat di mana anda mencurahkan energi pengabdian. Semua bayi dilahirkan ke dunia tanpa sebutan atau embel-embel apapun, sampai ia bisa menggunakan keunggulan human capital yang dimiliki dengan menempuh proses hukum petani kemudiann barulah sebutan atau embel-embel tersebut diberikan. Oleh karena itu sebutan tidak dimiliki oleh mereka yang hanya dimotivasi kepentingan jangka pendek dengan dalil logika perut. Pakar psikologi, termasuk Dr. Maxwell Maltz mengistilahkannya dengan Identity (identitas). Ia mengatakan: “One of the things person hold most important is the identity, - that they will behave in accordance with the definition of themselves or their self-image. Tugas anda adalah menciptakan identitas diri dengan menggunakan human capital. Hidup tanpa identitas yang didasarkan pada penggunaan human capital diistilahkan oleh Mark Twin bagai neraka yaitu ketika Tuhan telah menganugerahkan visi yang jelas dalam satu paket human capital tetapi dihambur-hamburkan, dan prestasi yang seharusnya bisa diraih gagal diperoleh karena selam hidup tidak melakukan tindakan apapun. Setelah anda menggunakannya dengan cara dan di dalam hal yang tepat berarti proses terciptanya identitas diri sedang berlangsung . Misalkan anda memiliki potensi postur fisik bagus. Jika anda melatihnya dengan cara-cara yang ditempuh para atlet sesuai disiplin yang ada lalu anda menggunakannya di bidang keolahragaan, maka sebutan atletik sangat rasional bakal anda sandang. Sampai ketika anda tidak menjadi seorang atletik pun karena alasan-alasan khusus, dunia sudah membenarkan langkah anda. Atas dasar sebutan inilah anda akan menerima reward dari orang lain yang oleh para pakar pengembangan pribadi disebut “to attract success” bukan “to pursue” yang memiliki implikasi memakan cost lebih tinggi.
3. Memberikan
Seorang dokter disebut dokter bukan ketika ia menerima sertifikat kedokteran tetapi ketika ia memberikan benefit medis kepada pihak-pihak yang menjadi pasiennya. Seorang businessman disebut pebisnis ketika telah memberikan benefit bisnis kepada customernya. Tokoh bisnis international, Peter Drucker pernah menuturkan: "the purpose of business is to create customer". Artinya benefit bisnis tidak lain adalah berupa solusi atau sesuatu yang membuat orang lain merasa beda. Besar-kecilnya nilai benefit bagi customer akan menciptakan rate of return setimpal bahkan lebih atas sebutan anda. Maka berjasalah tetapi jangan minta jasa. Bagian dari hukum yang mengendalikan dunia ini adalah The Law of Paradox, (John Heider dalam The Tao of Leadership, London: 1986). Salah satu dari bentuk paradoks tersebut adalah bahwa jika anda memberi tidak berarti kehilangan melainkan mempunyai. Tetapi sayangnya paradoks tersebut berlaku pada level realitas esensial yang diistilahkan agama dengan invisible value, atau menurut Reg Regan, penemu Action Learning, disebut sebagai Reflection yaitu new understanding about something. Realitas esensial adalah realitas hikmah di mana keberadaannya ditutupi sekian data, atau fakta. Maka jangan heran, ketika anda tidak bisa beramal dengan harta, jiwa atau ilmu, bisa jadi beramal dengan senyuman pun sulit. Persoalannya bukan pada apakah anda memiliki atau tidak tetapi semata karena realitas yang anda huni. Dunia ini mengandung lapisan realitas yang bisa dikastakan menjadi lapisan permukaan, lapisan tengah, lapisan dalam. Setiap lapisan memiliki dalilnya masing-masing. Dalil lapisan permukaan bukan berbunyi memberi berarti mempunyai tetapi untuk mempunyai harus dengan cara mengambil dari orang lain, bahkan kalau perlu dengan paksa. Sang pujangga, Ronggowarsito, menggambarkannya dalam “Zaman Edan”. Dalam zaman edan tersebut, kalau anda tidak ikut-ikutan edan, anda menjadi sendirian tanpa bagian. Tetapi, lanjut Ronggowarsito, jangan lupa di balik realitas permukaan itu masih terdapat realitas esensial yang berdalil: “sehebat-hebat anda menggunakan cara merampas untuk mendapatkan hak, maka tidak akan melebihi kehebatan jika anda memperolehnya melalui jalan memberi solusi". The power of giving seringkali dilupakan karena nafsu egoisme yang kuat untuk mendapatkan. Hal ini seringkali membuat orang mengabaikan cara-cara yang pantas dalam mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu, temukan cara ilmiah dan wajar untuk mendapatkan sesuatu kalau anda mengharapkan kasta realitas yang terhormat. Cara tersebut adalah business of selling dengan menciptakan paket pelayanan solusi bagi manusia lain yang membutuhkan sesuai dengan sebutan/identitas yang anda miliki. Jangan lupa, paket pelayanan solusi tidak sekedar tahu atau pernah belajar, tetapi dalam bentuk tindakan nyata.
Dengan pemahaman terhadap cara-cara memobilisasi sumber daya yang dimiliki diharapkan bahwa anda akan mampu mengaktualisasikan diri secara optimal baik dalam pekerjaan maupun dalam persoalan hidup sehari-hari. Dengan jumlah penduduk negeri ini yang demikian besar maka alangkah besar potensi yang kita miliki. Oleh karena itu mari kita bersama-sama merubah potensi tersebut menjadi asset. Mari memulainya dari diri kita sendiri. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat bagi kehidupan anda.*****Swara SKJM HS 5258
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber.
Rabu, 18 Juli 2007
Peran Strategis Komisi Pemberantasan Korupsi
Penulis : Adnan Topan Husodo
Lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didasarkan pada perkembangan pemikiran di dunia hukum bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa. Label demikian dianggap tepat untuk disematkan dalam konteks Indonesia, mengingat daya rusak praktek korupsi telah mencapai level tinggi. Maka, tak mengherankan jika hingga hari ini Indonesia masih terjebak dalam suatu kondisi sosial-ekonomi dan politik yang memprihatinkan.
Indikasinya bisa dilihat dari deretan angka kemiskinan yang tinggi, besarnya tingkat pengangguran, rendahnya indeks sumber daya manusia Indonesia, serta rendahnya kualitas demokrasi. Secara langsung ataupun tidak, keadaan di atas disebabkan oleh korupsi yang sudah telanjur mewabah. Korupsi telah membuat lumpuh sebagian besar daya dan kekuatan yang dimiliki bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan.
Selama ini, program pemberantasan korupsi melalui pendekatan konvensional telah divonis gagal dalam mengurangi tingginya korupsi yang terjadi. Kegagalan demi kegagalan dalam memberantas korupsi menumbuhkan sebuah keyakinan bahwa, dalam sebuah sistem tempat korupsi telah menjadi endemik, mekanisme penegakan hukum yang biasa hanya akan menutupi pejabat negara yang korup.
Institusi penegak hukum konvensional yang bertindak menegakkan hukum semakin tidak berdaya dalam mendeteksi dan menuntut kasus-kasus korupsi yang kian kompleks. Bahkan institusi-institusi tersebut telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi yang merajalela. Karena itu, kehadiran KPK seharusnya merupakan sebuah jawaban bagi deadlock-nya upaya melawan korupsi.
Akan tetapi, berdasarkan hasil evaluasi ICW terhadap kinerja institusi KPK selama kurun waktu 2003-2007 dalam memberantas korupsi, terdapat berbagai kelemahan yang ditemukan. Salah satu yang mendasar adalah tidak mencukupinya basis analisis untuk melihat akar dan problematika korupsi itu sendiri. Sehingga desain kebijakan dan program pemberantasan korupsi yang dikembangkan oleh KPK dirasa kurang efektif, efisien, relevan, dan berkelanjutan.
Dalam analisis berbagai pakar, Indonesia saat ini berada pada tipologi korupsi ketika state capture type of corruption telah mendominasi ruang-ruang kebijakan publik, sementara korupsi birokrasi juga berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Dua keadaan ini menyebabkan kita disandera oleh sistem yang teramat korup (UNDP, 2002). Atau, dengan kata lain, tidak dapat berbuat apa pun untuk membenahi persoalan korupsi yang sudah sedemikian pelik.
Sementara itu, di sisi yang lain, KPK masih berkutat pada penanganan korupsi yang bertipologi petty administrative corruption. Karena itu, proses hukum atas kasus-kasus korupsi yang ditangani KPK tidak memiliki dampak yang berarti, karena hilangnya nilai strategis dari sebuah kasus korupsi yang ditangani. Nilai strategis itu dilihat dalam dua pendekatan, yakni sumber korupsi yang selama ini menjerat bangsa Indonesia dalam keterpurukan ekonomi, sosial, dan politik, serta dampak langsung pemberantasan korupsi dalam bentuk pembenahan sistem yang rentan terhadap korupsi setelah penegakan hukum dilakukan.
State capture bisa dilihat pada aktor utama pelaku korupsinya, yakni pejabat politik, pejabat negara, dan kalangan swasta/pengusaha yang berkolusi menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaan negara/publik. Aktor inilah yang menciptakan sebuah kondisi negara yang terus-menerus tersandera oleh ketidakberdayaan sosial-ekonomi dan politik.
Di samping karena kerugian negara dan masyarakat yang dapat mencapai triliunan rupiah, state capture telah menciptakan monopoli dalam penguasaan dan alokasi sumber daya ekonomi publik. Melalui praktek komunikasi dan lobi secara informal, tertutup dengan contact person di level tinggi, state captors bekerja mempengaruhi kebijakan publik yang dapat menguntungkan aktor-aktornya. Pendek kata, dalam korupsi bertipologi state capture, kebijakan publik merupakan arena transaksi dan sumber akumulasi kekayaan.
Namun, sayangnya, hingga saat ini, pun setelah KPK lahir, aktor-aktor state capture masih tetap tidak tersentuh. KPK masih sebatas menangani kasus-kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah, pejabat eselon, dan pemimpin proyek--yang sebagian besar korupsinya terjadi di sektor pengadaan barang dan jasa. Barangkali sektor ini memang rawan terhadap korupsi. Tapi berbagai sektor lain, tempat sumber ekonomi publik yang demikian besar dikelola, seharusnya menjadi pilihan-pilihan yang strategis untuk dihantam.
Memang KPK tidak didesain untuk menegakkan hukum korupsi di semua lini. Karena itu, seharusnya pilihan dalam membidik sebuah kasus korupsi harus didasarkan pada pertimbangan strategisnya. Terutama pada titik di mana kejaksaan dan kepolisian memiliki hambatan politik untuk menanganinya. Jika KPK menangani perkara korupsi yang sederajat dengan kualitas perkara milik kejaksaan dan kepolisian, hal ini justru hanya akan menimbulkan naiknya ongkos dalam memberantas korupsi.
Supaya KPK dapat terfokus pada kasus-kasus korupsi yang memiliki spektrum politik besar, sekaligus memiliki dampak terhadap perbaikan ekonomi dan pelayanan publik, mekanisme supervisi dan koordinasi harus dioptimalkan. Mengingat banyak kasus korupsi birokratis yang ditangani kejaksaan dan kepolisian mengalami kemacetan, KPK harus mengawasi secara serius proses penegakan hukumnya. Dengan kewenangan itu, diharapkan penanganan kasus-kasus korupsi birokrasi, yang selama ini menjadi tanggung jawab kejaksaan dan kepolisian, menjadi lebih efisien dan tidak koruptif.
Selama ini tidak dapat dimungkiri bahwa terdapat penambahan jumlah kasus yang ditangani kejaksaan dan kepolisian setelah mekanisme supervisi dan koordinasi dilakukan KPK, tapi hal itu tidak mengurangi praktek korupsi dalam penanganan kasus korupsi. Karena itu, untuk mendorong proses penegakan hukum pada tingkat kejaksaan dan kepolisian, KPK seharusnya memulai upaya pemberantasan korupsi dengan melakukan pembersihan pada tubuh aparat penegak hukum. Upaya membersihkan kejaksaan dan kepolisian akan sangat membantu KPK dalam menangani perkara-perkara korupsi yang sedemikian banyak.
Namun, sayangnya, hingga menjelang berakhirnya masa tugas pemimpin KPK periode 2003-2007, belum ada satu pun aparat penegak hukum yang diproses, kecuali Suparman selaku penyidik KPK sendiri. Padahal mustahil mendorong program pemberantasan korupsi di tubuh kejaksaan dan kepolisian seandainya upaya-upaya pembersihan tidak segera dilakukan. Demikian juga halnya lingkup pengadilan, yang seharusnya menjadi prioritas mengingat semua proses hukum akan bermuara di tangan para hakim.
Karena itu, ke depan sudah seharusnya pemimpin KPK terpilih harus benar-benar memiliki perspektif yang kuat sehingga dapat melihat secara lebih tajam persoalan mendasar dari merajalelanya korupsi. Sudah seharusnya desain program dan kebijakan pemberantasan korupsi harus becermin pada tipologi korupsi yang mendominasi. Bukan sekadar menjalankan tugas dan kewajiban memberantas korupsi sebagaimana mandat undang-undang tapi tanpa bekal yang cukup memadai.
Adnan Topan Husodo, Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch
Di Posting dari : www.tempointeraktif.com
Penulis : Adnan Topan Husodo
Lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didasarkan pada perkembangan pemikiran di dunia hukum bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa. Label demikian dianggap tepat untuk disematkan dalam konteks Indonesia, mengingat daya rusak praktek korupsi telah mencapai level tinggi. Maka, tak mengherankan jika hingga hari ini Indonesia masih terjebak dalam suatu kondisi sosial-ekonomi dan politik yang memprihatinkan.
Indikasinya bisa dilihat dari deretan angka kemiskinan yang tinggi, besarnya tingkat pengangguran, rendahnya indeks sumber daya manusia Indonesia, serta rendahnya kualitas demokrasi. Secara langsung ataupun tidak, keadaan di atas disebabkan oleh korupsi yang sudah telanjur mewabah. Korupsi telah membuat lumpuh sebagian besar daya dan kekuatan yang dimiliki bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan.
Selama ini, program pemberantasan korupsi melalui pendekatan konvensional telah divonis gagal dalam mengurangi tingginya korupsi yang terjadi. Kegagalan demi kegagalan dalam memberantas korupsi menumbuhkan sebuah keyakinan bahwa, dalam sebuah sistem tempat korupsi telah menjadi endemik, mekanisme penegakan hukum yang biasa hanya akan menutupi pejabat negara yang korup.
Institusi penegak hukum konvensional yang bertindak menegakkan hukum semakin tidak berdaya dalam mendeteksi dan menuntut kasus-kasus korupsi yang kian kompleks. Bahkan institusi-institusi tersebut telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi yang merajalela. Karena itu, kehadiran KPK seharusnya merupakan sebuah jawaban bagi deadlock-nya upaya melawan korupsi.
Akan tetapi, berdasarkan hasil evaluasi ICW terhadap kinerja institusi KPK selama kurun waktu 2003-2007 dalam memberantas korupsi, terdapat berbagai kelemahan yang ditemukan. Salah satu yang mendasar adalah tidak mencukupinya basis analisis untuk melihat akar dan problematika korupsi itu sendiri. Sehingga desain kebijakan dan program pemberantasan korupsi yang dikembangkan oleh KPK dirasa kurang efektif, efisien, relevan, dan berkelanjutan.
Dalam analisis berbagai pakar, Indonesia saat ini berada pada tipologi korupsi ketika state capture type of corruption telah mendominasi ruang-ruang kebijakan publik, sementara korupsi birokrasi juga berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Dua keadaan ini menyebabkan kita disandera oleh sistem yang teramat korup (UNDP, 2002). Atau, dengan kata lain, tidak dapat berbuat apa pun untuk membenahi persoalan korupsi yang sudah sedemikian pelik.
Sementara itu, di sisi yang lain, KPK masih berkutat pada penanganan korupsi yang bertipologi petty administrative corruption. Karena itu, proses hukum atas kasus-kasus korupsi yang ditangani KPK tidak memiliki dampak yang berarti, karena hilangnya nilai strategis dari sebuah kasus korupsi yang ditangani. Nilai strategis itu dilihat dalam dua pendekatan, yakni sumber korupsi yang selama ini menjerat bangsa Indonesia dalam keterpurukan ekonomi, sosial, dan politik, serta dampak langsung pemberantasan korupsi dalam bentuk pembenahan sistem yang rentan terhadap korupsi setelah penegakan hukum dilakukan.
State capture bisa dilihat pada aktor utama pelaku korupsinya, yakni pejabat politik, pejabat negara, dan kalangan swasta/pengusaha yang berkolusi menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaan negara/publik. Aktor inilah yang menciptakan sebuah kondisi negara yang terus-menerus tersandera oleh ketidakberdayaan sosial-ekonomi dan politik.
Di samping karena kerugian negara dan masyarakat yang dapat mencapai triliunan rupiah, state capture telah menciptakan monopoli dalam penguasaan dan alokasi sumber daya ekonomi publik. Melalui praktek komunikasi dan lobi secara informal, tertutup dengan contact person di level tinggi, state captors bekerja mempengaruhi kebijakan publik yang dapat menguntungkan aktor-aktornya. Pendek kata, dalam korupsi bertipologi state capture, kebijakan publik merupakan arena transaksi dan sumber akumulasi kekayaan.
Namun, sayangnya, hingga saat ini, pun setelah KPK lahir, aktor-aktor state capture masih tetap tidak tersentuh. KPK masih sebatas menangani kasus-kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah, pejabat eselon, dan pemimpin proyek--yang sebagian besar korupsinya terjadi di sektor pengadaan barang dan jasa. Barangkali sektor ini memang rawan terhadap korupsi. Tapi berbagai sektor lain, tempat sumber ekonomi publik yang demikian besar dikelola, seharusnya menjadi pilihan-pilihan yang strategis untuk dihantam.
Memang KPK tidak didesain untuk menegakkan hukum korupsi di semua lini. Karena itu, seharusnya pilihan dalam membidik sebuah kasus korupsi harus didasarkan pada pertimbangan strategisnya. Terutama pada titik di mana kejaksaan dan kepolisian memiliki hambatan politik untuk menanganinya. Jika KPK menangani perkara korupsi yang sederajat dengan kualitas perkara milik kejaksaan dan kepolisian, hal ini justru hanya akan menimbulkan naiknya ongkos dalam memberantas korupsi.
Supaya KPK dapat terfokus pada kasus-kasus korupsi yang memiliki spektrum politik besar, sekaligus memiliki dampak terhadap perbaikan ekonomi dan pelayanan publik, mekanisme supervisi dan koordinasi harus dioptimalkan. Mengingat banyak kasus korupsi birokratis yang ditangani kejaksaan dan kepolisian mengalami kemacetan, KPK harus mengawasi secara serius proses penegakan hukumnya. Dengan kewenangan itu, diharapkan penanganan kasus-kasus korupsi birokrasi, yang selama ini menjadi tanggung jawab kejaksaan dan kepolisian, menjadi lebih efisien dan tidak koruptif.
Selama ini tidak dapat dimungkiri bahwa terdapat penambahan jumlah kasus yang ditangani kejaksaan dan kepolisian setelah mekanisme supervisi dan koordinasi dilakukan KPK, tapi hal itu tidak mengurangi praktek korupsi dalam penanganan kasus korupsi. Karena itu, untuk mendorong proses penegakan hukum pada tingkat kejaksaan dan kepolisian, KPK seharusnya memulai upaya pemberantasan korupsi dengan melakukan pembersihan pada tubuh aparat penegak hukum. Upaya membersihkan kejaksaan dan kepolisian akan sangat membantu KPK dalam menangani perkara-perkara korupsi yang sedemikian banyak.
Namun, sayangnya, hingga menjelang berakhirnya masa tugas pemimpin KPK periode 2003-2007, belum ada satu pun aparat penegak hukum yang diproses, kecuali Suparman selaku penyidik KPK sendiri. Padahal mustahil mendorong program pemberantasan korupsi di tubuh kejaksaan dan kepolisian seandainya upaya-upaya pembersihan tidak segera dilakukan. Demikian juga halnya lingkup pengadilan, yang seharusnya menjadi prioritas mengingat semua proses hukum akan bermuara di tangan para hakim.
Karena itu, ke depan sudah seharusnya pemimpin KPK terpilih harus benar-benar memiliki perspektif yang kuat sehingga dapat melihat secara lebih tajam persoalan mendasar dari merajalelanya korupsi. Sudah seharusnya desain program dan kebijakan pemberantasan korupsi harus becermin pada tipologi korupsi yang mendominasi. Bukan sekadar menjalankan tugas dan kewajiban memberantas korupsi sebagaimana mandat undang-undang tapi tanpa bekal yang cukup memadai.
Adnan Topan Husodo, Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch
Di Posting dari : www.tempointeraktif.com
TOL CIKUNIR-HANKAM BEROPERASI PADA BULAN DEPAN
Pembangunan ruas tol lingkar kota Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) ruas E1 seksi IV, Cikunir-Hankam direncanakan selesai pada bulan depan. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meminta kepada PT Jasa Marga selaku pengelola ruas tersebut, agar Cikunir-Hankam sudah bisa dipakai secara fisik sebelum 17 Agustus mendatang.
”Kalau berdasar janjinya Pak Saut (pimpinan proyek pembangunan JORR ruas E1 seksi IV) pembangunan selesai akhir Juli, sehingga secara fisik bisa digunakan pada Agustus,” ungkap Djoko Kirmanto usai meninjau langsung ke lapangan pembangunan ruas tol tersebut di Jakarta, Senin siang (16/7).
Dalam peninjauan lapangan tersebut, Menteri PU turut didampingi antara lain Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Hisnu Pawenang, Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Sunito, Pimpinan Proyek pembangunan JORR ruas E1 seksi IV Saut Situmorang, dan Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen PU Amwazi Idrus.
Lebih lanjut Djoko Kirmanto menjelaskan, penetapan tarif akan segera dilakukan tidak lama setelah pembukaan resmi ruas tol tersebut. Saat ini BPJT tengah menghitung penetapan tarifnya.
Hisnu Pawenang mengungkapkan, kemungkinan tarif Cikunir-Hankam akan sama dengan tarif ruas JORR lainnya yang sebesar Rp 420 per Km. Namun, Dirut PT Jasa Marga meminta agar untuk ruas tersebut memakai pola operasi terbuka atau sekali bayar. Djoko Kirmanto meminta kepada Kepala BPJT agar segera membentuk tim evaluasi jalan tol untuk ruas E1 seksi IV sebelum dibuka secara komersil.
”BPJT harus sudah siap-siap sekarang timnya dibentuk, tidak perlu nunggu barangnya jadi terlebih dahulu,” pinta Menteri PU.
Berdasarkan tinjauan di lapangan, pembangunan ruas sepanjang 4 Km tersebut telah hampir selesai seluruhnya, bahkan telah dapat digunakan masyarakat sekitar sebagai jalan alternatif. Pembangunan yang tengah dilakukan hanya berupa pembetonan badan jalan pada beberapa jembatan yang telah dibangun.
Pembangunan tol yang menghubungkan ruas Cikampek-Jatiasih , Bambu Apus, Hankam, Jagorawi hingga ke Pondok Indah, Pondok Pinang, Binataro, Bumi Serpong tersebut terhambat 2,5 tahun akibat permasalahan pembebasan lahan. Frans Sunito memperkirakan kerugian yang diderita PT Jasa Marga akibat molornya pengoperasian ruas tersebut mencapai Rp 4 miliar setiap bulannya.
”Setiap bulannya akibat belum tembusnya JORR, Jasa Marga kehilangan potensi penghasilan mencapai Rp 4 miliar. Namun, angka tersebut bukan hasil dari bagian itu saja (ruas E1 seksi IV-red), semestinya jiika Cikunir-Hankam telah dibuka dari dulu, volume kendaraan yang melintas dari Cikunir hingga Ulujami akan lebih banyak dari sekarang,” ucap Frans Sunito.
Dengan dibukanya ruas tersebut, diharapkan beban lalu lintas kendaraan di interchange Cawang dapat direduksi. Lalu lintas dari tol Jagorawi menuju Cikampek maupun arah sebaliknya, yang selalu terhambat kemacetan di daerah Universitas Kristen Indonesia (UKI) tidak akan terjadi lagi.(rnd)
Di Posting dari : www.pu.go.id
Pembangunan ruas tol lingkar kota Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) ruas E1 seksi IV, Cikunir-Hankam direncanakan selesai pada bulan depan. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meminta kepada PT Jasa Marga selaku pengelola ruas tersebut, agar Cikunir-Hankam sudah bisa dipakai secara fisik sebelum 17 Agustus mendatang.
”Kalau berdasar janjinya Pak Saut (pimpinan proyek pembangunan JORR ruas E1 seksi IV) pembangunan selesai akhir Juli, sehingga secara fisik bisa digunakan pada Agustus,” ungkap Djoko Kirmanto usai meninjau langsung ke lapangan pembangunan ruas tol tersebut di Jakarta, Senin siang (16/7).
Dalam peninjauan lapangan tersebut, Menteri PU turut didampingi antara lain Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Hisnu Pawenang, Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Sunito, Pimpinan Proyek pembangunan JORR ruas E1 seksi IV Saut Situmorang, dan Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen PU Amwazi Idrus.
Lebih lanjut Djoko Kirmanto menjelaskan, penetapan tarif akan segera dilakukan tidak lama setelah pembukaan resmi ruas tol tersebut. Saat ini BPJT tengah menghitung penetapan tarifnya.
Hisnu Pawenang mengungkapkan, kemungkinan tarif Cikunir-Hankam akan sama dengan tarif ruas JORR lainnya yang sebesar Rp 420 per Km. Namun, Dirut PT Jasa Marga meminta agar untuk ruas tersebut memakai pola operasi terbuka atau sekali bayar. Djoko Kirmanto meminta kepada Kepala BPJT agar segera membentuk tim evaluasi jalan tol untuk ruas E1 seksi IV sebelum dibuka secara komersil.
”BPJT harus sudah siap-siap sekarang timnya dibentuk, tidak perlu nunggu barangnya jadi terlebih dahulu,” pinta Menteri PU.
Berdasarkan tinjauan di lapangan, pembangunan ruas sepanjang 4 Km tersebut telah hampir selesai seluruhnya, bahkan telah dapat digunakan masyarakat sekitar sebagai jalan alternatif. Pembangunan yang tengah dilakukan hanya berupa pembetonan badan jalan pada beberapa jembatan yang telah dibangun.
Pembangunan tol yang menghubungkan ruas Cikampek-Jatiasih , Bambu Apus, Hankam, Jagorawi hingga ke Pondok Indah, Pondok Pinang, Binataro, Bumi Serpong tersebut terhambat 2,5 tahun akibat permasalahan pembebasan lahan. Frans Sunito memperkirakan kerugian yang diderita PT Jasa Marga akibat molornya pengoperasian ruas tersebut mencapai Rp 4 miliar setiap bulannya.
”Setiap bulannya akibat belum tembusnya JORR, Jasa Marga kehilangan potensi penghasilan mencapai Rp 4 miliar. Namun, angka tersebut bukan hasil dari bagian itu saja (ruas E1 seksi IV-red), semestinya jiika Cikunir-Hankam telah dibuka dari dulu, volume kendaraan yang melintas dari Cikunir hingga Ulujami akan lebih banyak dari sekarang,” ucap Frans Sunito.
Dengan dibukanya ruas tersebut, diharapkan beban lalu lintas kendaraan di interchange Cawang dapat direduksi. Lalu lintas dari tol Jagorawi menuju Cikampek maupun arah sebaliknya, yang selalu terhambat kemacetan di daerah Universitas Kristen Indonesia (UKI) tidak akan terjadi lagi.(rnd)
Di Posting dari : www.pu.go.id
Selasa, 17 Juli 2007
Mempersiapkan Fokus Pemimpin Baru
Penulis : Paulus Bambang W.S.
Promosi jabatan secara formal mudah dilakukan. Hanya dengan selembar surat keputusan dari atasan yang berwenang pada perusahaan tertutup, atau melalui RUPS pada perusahaan terbuka, kursi jabatan baru sudah dapat diduduki. Semua itu lalu diikuti dengan perubahan kamar kerja, fasilitas mobil berikut sopir, sekretaris pribadi, dan berbagai fasilitas lainnya. Semua siap untuk mendukung sang bos baru beraksi sesuai posisinya.
Semua sarana dan prasarana mudah disiapkan. Namun, yang sering terlupa adalah mempersiapkan kesadaran dan pengertian akan tanggung jawab dan tanggung gugat di posisi baru. Banyak pemimpin yang menganggap calon pemimpin sudah tahu atau seharusnya tahu. Jangankan mengevaluasinya, mempertanyakan secara langsung saja sudah takut dianggap menggurui.
Alhasil, banyak direksi baru yang sebenarnya minim pengetahuan tentang tanggung jawab dan tanggung gugat yang diembannya. Pengetahuan tentang “acquit et decharge” sangat kritikal, apalagi soal kewajiban renteng sampai ke harta pribadi. Banyak yang menganggap hal ini remeh, sehingga para istri dan anak-anaknya tidak tahu bahwa harta mereka menjadi berisiko tinggi. Penghargaan berupa kenaikan gaji, bonus, dan tantiem yang diterima sebagian haruslah dianggap sebagai premi atas risiko keuangan keluarga, karena kewajiban legal tersebut.
Soal materi masih relatif mudah disiasati. Namun, yang justru sering dirasakan timpang adalah persiapan pola pikir, pola sikap, dan pola kerja. Banyak pemimpin baru yang dianggap menjadi pemimpin bisnis, entah itu anggota direksi ataupun orang nomor satu di strategic business unit tertentu, yang pola pikir, sikap, dan kerjanya tidak berubah. Jabatan dan posisi tidak mengubah cara dia bertindak. Akibatnya, banyak gesekan dan ketidakefisienan karena duplikasi kerja dengan bawahannya sendiri.
Banyak pula yang tak mampu melepaskan diri dari kompetensi keahlian yang menjadi trademark-nya di level bawah, yang seharusnya sudah ia tinggalkan ketika menduduki kursi pimpinan unit. Banyak yang tetap menjadi super spesialis, entah itu salesman, teknisi, mekanik, ataupun pemegang buku, walau jabatannya sudah mengharuskannya memikirkan kebijakan jangka panjang.
Kalau tidak dipersiapkan dan dievaluasi dengan baik, pemimpin baru tak akan menghasilkan gebrakan yang berarti bagi perusahaan atau unit yang dipimpinnya. Apalagi kalau kompetensi teknis membelenggunya karena ia enggan melepas trademark. Perusahaan akan mengalami opportunity lost yang memang secara akuntansi sulit dicatat. Konflik yang tidak perlu, arogansi teknis yang sangat menghambat, pelanggan yang sakit hati, perkembangan bisnis yang hanya sejalur dengan kecenderungan industri, adalah contoh yang sulit dimaterialkan secara kasatmata.
Guna mempercepat asimilasi pemimpin baru akan tugas dan tanggung jawab yang baru, bos sang pemimpin harus berani menarik ke atas. Pull them out. Bos senantiasa memberi tugas untuk membebaskan mereka dari tuntutan pekerjaan yang selama ini mereka kerjakan. Misalnya, sebagai pemimpin divisi operasi, salah satu tugas utamanya adalah menaklukkan pasar. Sebagai panglima perang, yang penting adalah memenangkan pertempuran. Tuntutan ini menyebabkan ia senantiasa ingin memenangkan setiap pertempuran. Berapa pun harganya, berapa pun risikonya, seluruh pertempuran harus ia menangkan. Ia jarang menghitung berapa energi sia-sia yang harus dipikul dengan konsep WEB (win every battle) ini. Orientasi dan fokus ini menyebabkan panglima pertempuran sering kelelahan, fisik dan mental. Bahkan tak jarang, banyak yang menderita kesakitan burn out, terbakar habis oleh ambisinya sendiri.
Untuk pull them out dari situasi tersebut, bos pemimpin baru haruslah secara aktif melontarkan pertanyaan baru kepada mereka. “Ask New Questions”. Ini yang sering dilupakan, kalau tidak mau mengatakan sering tidak dilakukan. Pemimpin sang pemimpin yang mau mengubah pola pikir, sikap, dan kerja pejabat baru, harus terus-menerus secara sadar menggunakan metode ini untuk segera menarik mereka ke kancah arena baru. Dari sekadar pertanyaan soal “Next Target” yang menjadi Key Performance Indicator panglima pertempuran menjadi ”Next Level” dan ”Next Landscape” untuk panglima peperangan.
Next Target berisi tuntutan untuk kemajuan penjualan setiap bulan. Berapa yang dijual, berapa pangsa pasar, berapa keuntungan per produk, berapa diskon yang dikeluarkan, berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi tersebut. Sebuah ukuran yang memang cocok untuk panglima pertempuran.
Next Level adalah tuntutan pada level kebijakan, tentang bagaimana membawa peperangan pada kekuatan yang dimilikinya. Perang bukan untuk melemahkan kekuatan lawan, melainkan perang di arena kekuatan sendiri. Arah fokusnya berubah menjadi penciptaan cara perang baru, pada senjata yang baru saja kita ciptakan, yang justru bukan merupakan kekuatan lawan. Pertanyaan ke arah Next Level ini akan memaksa pemimpin baru berolah pikir secara berbeda. Mempersiapkan new offering, mengeksploitasi new territory, menggaet new customers, menginisiasi new innovation, mencoba new invention, adalah sebagai strategi baru untuk memenangkan peperangan secara komprehensif.
Bahkan, dalam banyak hal, ia harus berani mengorbankan beberapa pertempuran yang secara khusus didesain untuk kalah agar mampu membuyarkan konsentrasi pesaing dan mengalahkan dalam kesempatan lain secara dahsyat. Ini skenario drama peperangan yang sangat berbeda dengan episode pertempuran yang berdurasi bulanan, kuartalan, atau tahunan. Ini adalah investasi masa depan untuk sebuah kemenangan yang gilang-gemilang.
Kalau sudah paham dan mahir mengelola Next Level, barulah ia naik ke dalam proses pertanyaan ke arah penciptaan Next Landscape―sebuah proses melahirkan tonggak bisnis baru yang membawa perusahaan ke arena white space. Kalau bos pemimpin baru juga tidak Ask New Questions, maka pemimpin yang baru dipromosikan akan tetap berlari di tempat. Dan, itu bukan kesalahan dia, karena sang bos juga masih Ask Old Questions kepada bawahannya yang sudah dipromosikan ke New Position. Sangat menyedihkan.
Penulis adalah peminat studi kepemimpinan dan wakil presiden direktur sebuah perusahaan terbuka.
Di Posting dari : www.wartaekonomi.com
Penulis : Paulus Bambang W.S.
Promosi jabatan secara formal mudah dilakukan. Hanya dengan selembar surat keputusan dari atasan yang berwenang pada perusahaan tertutup, atau melalui RUPS pada perusahaan terbuka, kursi jabatan baru sudah dapat diduduki. Semua itu lalu diikuti dengan perubahan kamar kerja, fasilitas mobil berikut sopir, sekretaris pribadi, dan berbagai fasilitas lainnya. Semua siap untuk mendukung sang bos baru beraksi sesuai posisinya.
Semua sarana dan prasarana mudah disiapkan. Namun, yang sering terlupa adalah mempersiapkan kesadaran dan pengertian akan tanggung jawab dan tanggung gugat di posisi baru. Banyak pemimpin yang menganggap calon pemimpin sudah tahu atau seharusnya tahu. Jangankan mengevaluasinya, mempertanyakan secara langsung saja sudah takut dianggap menggurui.
Alhasil, banyak direksi baru yang sebenarnya minim pengetahuan tentang tanggung jawab dan tanggung gugat yang diembannya. Pengetahuan tentang “acquit et decharge” sangat kritikal, apalagi soal kewajiban renteng sampai ke harta pribadi. Banyak yang menganggap hal ini remeh, sehingga para istri dan anak-anaknya tidak tahu bahwa harta mereka menjadi berisiko tinggi. Penghargaan berupa kenaikan gaji, bonus, dan tantiem yang diterima sebagian haruslah dianggap sebagai premi atas risiko keuangan keluarga, karena kewajiban legal tersebut.
Soal materi masih relatif mudah disiasati. Namun, yang justru sering dirasakan timpang adalah persiapan pola pikir, pola sikap, dan pola kerja. Banyak pemimpin baru yang dianggap menjadi pemimpin bisnis, entah itu anggota direksi ataupun orang nomor satu di strategic business unit tertentu, yang pola pikir, sikap, dan kerjanya tidak berubah. Jabatan dan posisi tidak mengubah cara dia bertindak. Akibatnya, banyak gesekan dan ketidakefisienan karena duplikasi kerja dengan bawahannya sendiri.
Banyak pula yang tak mampu melepaskan diri dari kompetensi keahlian yang menjadi trademark-nya di level bawah, yang seharusnya sudah ia tinggalkan ketika menduduki kursi pimpinan unit. Banyak yang tetap menjadi super spesialis, entah itu salesman, teknisi, mekanik, ataupun pemegang buku, walau jabatannya sudah mengharuskannya memikirkan kebijakan jangka panjang.
Kalau tidak dipersiapkan dan dievaluasi dengan baik, pemimpin baru tak akan menghasilkan gebrakan yang berarti bagi perusahaan atau unit yang dipimpinnya. Apalagi kalau kompetensi teknis membelenggunya karena ia enggan melepas trademark. Perusahaan akan mengalami opportunity lost yang memang secara akuntansi sulit dicatat. Konflik yang tidak perlu, arogansi teknis yang sangat menghambat, pelanggan yang sakit hati, perkembangan bisnis yang hanya sejalur dengan kecenderungan industri, adalah contoh yang sulit dimaterialkan secara kasatmata.
Guna mempercepat asimilasi pemimpin baru akan tugas dan tanggung jawab yang baru, bos sang pemimpin harus berani menarik ke atas. Pull them out. Bos senantiasa memberi tugas untuk membebaskan mereka dari tuntutan pekerjaan yang selama ini mereka kerjakan. Misalnya, sebagai pemimpin divisi operasi, salah satu tugas utamanya adalah menaklukkan pasar. Sebagai panglima perang, yang penting adalah memenangkan pertempuran. Tuntutan ini menyebabkan ia senantiasa ingin memenangkan setiap pertempuran. Berapa pun harganya, berapa pun risikonya, seluruh pertempuran harus ia menangkan. Ia jarang menghitung berapa energi sia-sia yang harus dipikul dengan konsep WEB (win every battle) ini. Orientasi dan fokus ini menyebabkan panglima pertempuran sering kelelahan, fisik dan mental. Bahkan tak jarang, banyak yang menderita kesakitan burn out, terbakar habis oleh ambisinya sendiri.
Untuk pull them out dari situasi tersebut, bos pemimpin baru haruslah secara aktif melontarkan pertanyaan baru kepada mereka. “Ask New Questions”. Ini yang sering dilupakan, kalau tidak mau mengatakan sering tidak dilakukan. Pemimpin sang pemimpin yang mau mengubah pola pikir, sikap, dan kerja pejabat baru, harus terus-menerus secara sadar menggunakan metode ini untuk segera menarik mereka ke kancah arena baru. Dari sekadar pertanyaan soal “Next Target” yang menjadi Key Performance Indicator panglima pertempuran menjadi ”Next Level” dan ”Next Landscape” untuk panglima peperangan.
Next Target berisi tuntutan untuk kemajuan penjualan setiap bulan. Berapa yang dijual, berapa pangsa pasar, berapa keuntungan per produk, berapa diskon yang dikeluarkan, berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi tersebut. Sebuah ukuran yang memang cocok untuk panglima pertempuran.
Next Level adalah tuntutan pada level kebijakan, tentang bagaimana membawa peperangan pada kekuatan yang dimilikinya. Perang bukan untuk melemahkan kekuatan lawan, melainkan perang di arena kekuatan sendiri. Arah fokusnya berubah menjadi penciptaan cara perang baru, pada senjata yang baru saja kita ciptakan, yang justru bukan merupakan kekuatan lawan. Pertanyaan ke arah Next Level ini akan memaksa pemimpin baru berolah pikir secara berbeda. Mempersiapkan new offering, mengeksploitasi new territory, menggaet new customers, menginisiasi new innovation, mencoba new invention, adalah sebagai strategi baru untuk memenangkan peperangan secara komprehensif.
Bahkan, dalam banyak hal, ia harus berani mengorbankan beberapa pertempuran yang secara khusus didesain untuk kalah agar mampu membuyarkan konsentrasi pesaing dan mengalahkan dalam kesempatan lain secara dahsyat. Ini skenario drama peperangan yang sangat berbeda dengan episode pertempuran yang berdurasi bulanan, kuartalan, atau tahunan. Ini adalah investasi masa depan untuk sebuah kemenangan yang gilang-gemilang.
Kalau sudah paham dan mahir mengelola Next Level, barulah ia naik ke dalam proses pertanyaan ke arah penciptaan Next Landscape―sebuah proses melahirkan tonggak bisnis baru yang membawa perusahaan ke arena white space. Kalau bos pemimpin baru juga tidak Ask New Questions, maka pemimpin yang baru dipromosikan akan tetap berlari di tempat. Dan, itu bukan kesalahan dia, karena sang bos juga masih Ask Old Questions kepada bawahannya yang sudah dipromosikan ke New Position. Sangat menyedihkan.
Penulis adalah peminat studi kepemimpinan dan wakil presiden direktur sebuah perusahaan terbuka.
Di Posting dari : www.wartaekonomi.com
Proyeknya Tak Bebas Hambatan
Jalan Tol
Minat swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan jalan tol masih sangat tinggi. Namun, untuk merealisasikannya, mereka menemui banyak hambatan, terutama dalam hal pembebasan tanah dan dukungan perbankan. Hambatan lainnya adalah tarif tol yang masih terlalu rendah, sehingga memperlambat return on investment. Akibatnya, proyek yang sudah lama direncanakan dan ada investornya pun gagal direalisasikan.
Pemerintah berupaya membantu, di antaranya, melalui kemudahan pembebasan lahan dan kenaikan tarif secara berkala. Bahkan, pemerintah memberikan dana talangan Rp600 miliar untuk pembebasan lahan.
Pembangunan jalan tol di Indonesia, selain dilakukan oleh PT Jasa Marga, juga melibatkan pihak swasta dengan membentuk perusahaan patungan. Bentuk kerja samanya umumnya built-operate-transfer (BOT) dengan masa pengelolaan 20–35 tahun. Dari jalan tol sepanjang 604 kilometer, 456 kilometer di antaranya dibangun dan dioperasikan Jasa Marga. Sisanya dibangun dan dioperasikan bekerja sama dengan swasta.
Di antara beberapa ruas jalan tol yang dikelola PT Jasa Marga, ruas terpanjang adalah Jakarta-Cikampek (72 kilometer), Padalarang-Cileunyi (46,58 kilometer), dan Jagorawi (46 kilometer). Jumlah kendaraan yang lewat jalan tol selama 2006 ternyata menunjukkan penurunan. Pada 2006 hanya 2,27 juta kendaraan yang lewat jalan tol, menurun dibanding 2005 yang 2,32 juta. Penurunan lalu lintas harian (LHR) juga terjadi pada beberapa ruas tol, seperti tol Porong yang tergenang lumpur Lapindo. Sementara itu, LHR tol Cawang-Tomang-Cengkareng selama ini merupakan yang terpadat, dengan 704.830 kendaraan pada 2006.
Meski jumlah kendaraan yang menggunakan jalan tol menurun, pendapatan operasinya tetap meningkat. Ini tak lepas dari adanya kenaikan tarif tol pada Maret 2005 lalu. Jika pada 2004 pendapatan rata-rata harian jalan tol tercatat Rp4,66 miliar, pada 2005 menjadi Rp5,4 miliar dan pada 2006 mencapai Rp6,37 miliar. Peningkatan pendapatan ini terjadi pada seluruh ruas.
Jalan tol Cawang-Tomang-Cengkareng pada 2006 merupakan ruas berpendapatan tertinggi, dengan pendapatan harian Rp1,52 miliar. Berikutnya ruas tol Jakarta-Cikampek dengan Rp1,26 miliar. Selama 2005–2009, pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol sepanjang 1.593 kilometer, yang sebagian besar berada di Jawa. Dari seluruh proyek tersebut, yang saat ini berada pada tahap konstruksi sepanjang 80 kilometer. Selebihnya masih dalam tahap persiapan.
Pembangunan jalan tol tersebut sudah direncanakan sejak 15 tahun lalu, tetapi belum bisa dilaksanakan. Masalah yang dihadapi adalah sulitnya pembebasan tanah. Masalah lainnya adalah desain jalan, lelang tender, dan pendanaan. Saat ini ada 36 ruas jalan tol sepanjang 1.152,33 kilometer senilai Rp91,42 triliun yang dalam taraf mulai beroperasi, konstruksi, tanda tangan kontrak negosiasi, proses lelang, dan prakualifikasi. Adapun yang masih dalam persiapan lelang sebanyak 18 ruas sepanjang 683,44 kilometer senilai Rp40,92 triliun.
Pemerintah membagi proyek jalan tol yang ada dalam beberapa kelompok prioritas. Dari seluruh ruas jalan tol tersebut, ada lima yang menjadi prioritas pertama dengan panjang 83,1 kilometer dan perkiraan kebutuhan dana Rp6,65 triliun. Lalu, ada 19 ruas jalan tol prioritas kedua dengan panjang 380,7 kilometer dan dana Rp21,57 triliun. Sementara 25 ruas sepanjang 1.129,3 kilometer masuk dalam prioritas ketiga dengan kebutuhan dana Rp61,18 triliun.
Pada proyek Trans Jawa juga terdapat beberapa ruas yang sudah mendapatkan investor. Bahkan, beberapa ruas jalan telah memperoleh kepastian pendanaan sehingga dapat segera dimulai. PT Bakrie Investindo, misalnya, siap merealisasi proyek jalan tol-nya.
Mereka juga telah mendapatkan dukungan perbankan dalam proyek jalan tol Pejagan- Kanci.
Sementara itu, PT Marga Nujyasumo Agung, pemegang pengusahaan ruas tol Surabaya-Mojokerto, juga telah mulai melakukan pembebasan lahan. Jalan tol tersebut diharapkan bisa dioperasikan pada 2009.
Di Posting dari : www.wartaekonomi.com
Jalan Tol
Minat swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan jalan tol masih sangat tinggi. Namun, untuk merealisasikannya, mereka menemui banyak hambatan, terutama dalam hal pembebasan tanah dan dukungan perbankan. Hambatan lainnya adalah tarif tol yang masih terlalu rendah, sehingga memperlambat return on investment. Akibatnya, proyek yang sudah lama direncanakan dan ada investornya pun gagal direalisasikan.
Pemerintah berupaya membantu, di antaranya, melalui kemudahan pembebasan lahan dan kenaikan tarif secara berkala. Bahkan, pemerintah memberikan dana talangan Rp600 miliar untuk pembebasan lahan.
Pembangunan jalan tol di Indonesia, selain dilakukan oleh PT Jasa Marga, juga melibatkan pihak swasta dengan membentuk perusahaan patungan. Bentuk kerja samanya umumnya built-operate-transfer (BOT) dengan masa pengelolaan 20–35 tahun. Dari jalan tol sepanjang 604 kilometer, 456 kilometer di antaranya dibangun dan dioperasikan Jasa Marga. Sisanya dibangun dan dioperasikan bekerja sama dengan swasta.
Di antara beberapa ruas jalan tol yang dikelola PT Jasa Marga, ruas terpanjang adalah Jakarta-Cikampek (72 kilometer), Padalarang-Cileunyi (46,58 kilometer), dan Jagorawi (46 kilometer). Jumlah kendaraan yang lewat jalan tol selama 2006 ternyata menunjukkan penurunan. Pada 2006 hanya 2,27 juta kendaraan yang lewat jalan tol, menurun dibanding 2005 yang 2,32 juta. Penurunan lalu lintas harian (LHR) juga terjadi pada beberapa ruas tol, seperti tol Porong yang tergenang lumpur Lapindo. Sementara itu, LHR tol Cawang-Tomang-Cengkareng selama ini merupakan yang terpadat, dengan 704.830 kendaraan pada 2006.
Meski jumlah kendaraan yang menggunakan jalan tol menurun, pendapatan operasinya tetap meningkat. Ini tak lepas dari adanya kenaikan tarif tol pada Maret 2005 lalu. Jika pada 2004 pendapatan rata-rata harian jalan tol tercatat Rp4,66 miliar, pada 2005 menjadi Rp5,4 miliar dan pada 2006 mencapai Rp6,37 miliar. Peningkatan pendapatan ini terjadi pada seluruh ruas.
Jalan tol Cawang-Tomang-Cengkareng pada 2006 merupakan ruas berpendapatan tertinggi, dengan pendapatan harian Rp1,52 miliar. Berikutnya ruas tol Jakarta-Cikampek dengan Rp1,26 miliar. Selama 2005–2009, pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol sepanjang 1.593 kilometer, yang sebagian besar berada di Jawa. Dari seluruh proyek tersebut, yang saat ini berada pada tahap konstruksi sepanjang 80 kilometer. Selebihnya masih dalam tahap persiapan.
Pembangunan jalan tol tersebut sudah direncanakan sejak 15 tahun lalu, tetapi belum bisa dilaksanakan. Masalah yang dihadapi adalah sulitnya pembebasan tanah. Masalah lainnya adalah desain jalan, lelang tender, dan pendanaan. Saat ini ada 36 ruas jalan tol sepanjang 1.152,33 kilometer senilai Rp91,42 triliun yang dalam taraf mulai beroperasi, konstruksi, tanda tangan kontrak negosiasi, proses lelang, dan prakualifikasi. Adapun yang masih dalam persiapan lelang sebanyak 18 ruas sepanjang 683,44 kilometer senilai Rp40,92 triliun.
Pemerintah membagi proyek jalan tol yang ada dalam beberapa kelompok prioritas. Dari seluruh ruas jalan tol tersebut, ada lima yang menjadi prioritas pertama dengan panjang 83,1 kilometer dan perkiraan kebutuhan dana Rp6,65 triliun. Lalu, ada 19 ruas jalan tol prioritas kedua dengan panjang 380,7 kilometer dan dana Rp21,57 triliun. Sementara 25 ruas sepanjang 1.129,3 kilometer masuk dalam prioritas ketiga dengan kebutuhan dana Rp61,18 triliun.
Pada proyek Trans Jawa juga terdapat beberapa ruas yang sudah mendapatkan investor. Bahkan, beberapa ruas jalan telah memperoleh kepastian pendanaan sehingga dapat segera dimulai. PT Bakrie Investindo, misalnya, siap merealisasi proyek jalan tol-nya.
Mereka juga telah mendapatkan dukungan perbankan dalam proyek jalan tol Pejagan- Kanci.
Sementara itu, PT Marga Nujyasumo Agung, pemegang pengusahaan ruas tol Surabaya-Mojokerto, juga telah mulai melakukan pembebasan lahan. Jalan tol tersebut diharapkan bisa dioperasikan pada 2009.
Di Posting dari : www.wartaekonomi.com
Siklus Ekonomi & Siklus Industri
Penulis : Bahar Passa
Di Posting dari : www.ihedge.wordpress.com
Hidup ini seperti putaran roda. Kadang di atas. Kadang di bawah.
Itu bukan hanya pernyataan klise, tapi merupakan hal yang kita amati di bidang ekonomi. Topik ini saya angkat setelah sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pendiri YesBank yang berbasis di Mumbai, India. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini terjadi pemendekan putaran siklus suku bunga bank. (Saat ini Indonesia bisa dikatakan sedang dalam siklus penurunan suku bunga.) Buat seorang banker seperti dia, siklus suku bunga sangat penting dalam kaitannya dengan pengaturan assets dan liabilities. Saya tanyakan apakah dia berpikir bahwa percepatan siklus itu hanya sesaat atau ada faktor fundamental yang membuatnya untuk akan tetap bertahan. Menurutnya, percepatan siklus suku bunga ini disebabkan oleh faktor fundamental akibat globalisasi perekonomian dunia. Shocks yang terjadi di suatu ekonomi besar lebih mungkin untuk terasa di negara-negara lainnya.
Apa hubungannya siklus suku bunga dengan siklus ekonomi? Bank sentral, menggunakan tingkat suku bunga sebagai salah satu alat untuk menjaga kestablian harga barang-barang di suatu negara. Biasanya (walaupun tidak selalu), kalau perekonomian sedang lesu dan harga barang-barang jatuh, bank sentral akan menurunkan suku bunga, demikian juga sebaliknya. (Terkadang, bisa juga perekonomian lesu dan harga barang-barang naik dan bank sentral belum tentu tahu harus berbuat apa.)
Kembali ke masalah mendasar, apa itu siklus ekonomi? Bahasa simpelnya, siklus ekonomi adalah putaran kegiatan perekonomian. Kadang kegiatan ekonomi lesu - banyak pengangguran. Kadang kegiatan ekonomi bergairah - pengangguran kecil - produktivitas naik. Lalu, apa itu siklus industri? Putaran kegiatan di suatu indusri. Kadang kegiatannya lesu - supply melebihi demand - harga produk-produk industri itu jatuh - PHK banyak - margin usaha kecil. Kadang kegiatannya bergairah - demand melebihi supply - harga produk-produk industri itu naik - pekerja-pekerja ahli dibajak.
Apa yang menyebabkan terjadinya siklus tersebut? Ada yang bilang karena pelaku industri sering membuat kesalahan proyeksi demand, sehingga kadang-kadang membanjiri pasar, kadang-kadang kekurangan pasokan. Ada yang bilang karena kesalahan pemerintah karena mengeluarkan kebijakan yang jelek. Ada yang bilang karena tindakan bank sentral dengan mengatur pasokan uang di masyarakat. Betulkah seperti itu?
Menurut saya, siklus terjadi karena cepatnya perubahan supply dan demand di suatu industri. Cepatnya perubahan demand mungkin disebabkan oleh faktor-faktor yang sulit diprediksi seperti bencana alam, perubahan cuaca, dsb. Cepatnya perubahan supply lebih menarik untuk dianalisa. Motivasi utama yang mendorong pelaku industri untuk dengan cepat mengubah supply adalah kompetisi dalam rangka mencapai keinginan untuk menjadi pemimpin di industrinya (market leader). Pelaku industri tidaklah bodoh (sering melakukan kesalahan dalam proyeksi demand) dalam menentukan supply. Mengapa mereka ingin menjadi leader? Karena menjadi leader menghasilkan premium tersendiri terhadap produk yang dijualnya. Sewaktu membeli HP, kenapa Anda membeli Nokia? Karena kebanyakan orang membeli nokia? Atau karena Anda telah membandingkan fitur-fitur Nokia dengan HP yang lainnya dan membandingkan harganya dengan HP yang lainnya? Yup, kebanyakan orang ingin membeli produk dari market leader.
Kenapa kompetisi untuk menjadi leader membuat perubahan supply produk menjadi cepat? Karena bila suatu perusahaan percaya bahwa produk barunya itu superior (entah karena teknologi baru, fitur baru, design baru, dll), maka ia akan melepas barang sebanyak-banyaknya untuk mematikan lawan usahanya. Ketika banyak dari mereka melakukan hal itu, tak khayal akhirnya hanya segelintir perusahaan yang akan sukses sementara supply melimpah dan harga-harga jatuh. Itulah saatnya industri secara keseluruhan (kecuali yang menang) lesu. Perusahaan yang kalah tutup, diambil alih, atau mengurangi biaya produksi dengan PHK dsb. Itulah masa konsolidasi. Lalu muncullah pemain-pemain baru dengan ide-ide atau teknologi baru dan berlomba-lomba untuk menjadi leader yang baru. Demikian proses berulang dan terjadilah siklus industri.
Siklus berbagai industri kadang-kadang terjadi bersamaan dan berkaitan dan membentuk siklus ekonomi secara keseluruhan.
Kalau hipotesa di atas benar, maka industri yang sulit untuk dimasuki (high entry barrier) tidak akan mengalami siklus yang berarti. Industri yang mudah dimasuki akan mengalami siklus yang serius dan lebih sering.
Pernyataan di atas membawa kita kepada pertanyaan: Apa yang membuat suatu industri sulit dimasuki pemain baru? Modal-kah? Teknologi-kah? Atau yang lain?
Apa relevansi dari mengetahui siklus industri? Itu akan membantu kita untuk memahami rotasi sektor di pasar saham.
Penulis : Bahar Passa
Di Posting dari : www.ihedge.wordpress.com
Hidup ini seperti putaran roda. Kadang di atas. Kadang di bawah.
Itu bukan hanya pernyataan klise, tapi merupakan hal yang kita amati di bidang ekonomi. Topik ini saya angkat setelah sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pendiri YesBank yang berbasis di Mumbai, India. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini terjadi pemendekan putaran siklus suku bunga bank. (Saat ini Indonesia bisa dikatakan sedang dalam siklus penurunan suku bunga.) Buat seorang banker seperti dia, siklus suku bunga sangat penting dalam kaitannya dengan pengaturan assets dan liabilities. Saya tanyakan apakah dia berpikir bahwa percepatan siklus itu hanya sesaat atau ada faktor fundamental yang membuatnya untuk akan tetap bertahan. Menurutnya, percepatan siklus suku bunga ini disebabkan oleh faktor fundamental akibat globalisasi perekonomian dunia. Shocks yang terjadi di suatu ekonomi besar lebih mungkin untuk terasa di negara-negara lainnya.
Apa hubungannya siklus suku bunga dengan siklus ekonomi? Bank sentral, menggunakan tingkat suku bunga sebagai salah satu alat untuk menjaga kestablian harga barang-barang di suatu negara. Biasanya (walaupun tidak selalu), kalau perekonomian sedang lesu dan harga barang-barang jatuh, bank sentral akan menurunkan suku bunga, demikian juga sebaliknya. (Terkadang, bisa juga perekonomian lesu dan harga barang-barang naik dan bank sentral belum tentu tahu harus berbuat apa.)
Kembali ke masalah mendasar, apa itu siklus ekonomi? Bahasa simpelnya, siklus ekonomi adalah putaran kegiatan perekonomian. Kadang kegiatan ekonomi lesu - banyak pengangguran. Kadang kegiatan ekonomi bergairah - pengangguran kecil - produktivitas naik. Lalu, apa itu siklus industri? Putaran kegiatan di suatu indusri. Kadang kegiatannya lesu - supply melebihi demand - harga produk-produk industri itu jatuh - PHK banyak - margin usaha kecil. Kadang kegiatannya bergairah - demand melebihi supply - harga produk-produk industri itu naik - pekerja-pekerja ahli dibajak.
Apa yang menyebabkan terjadinya siklus tersebut? Ada yang bilang karena pelaku industri sering membuat kesalahan proyeksi demand, sehingga kadang-kadang membanjiri pasar, kadang-kadang kekurangan pasokan. Ada yang bilang karena kesalahan pemerintah karena mengeluarkan kebijakan yang jelek. Ada yang bilang karena tindakan bank sentral dengan mengatur pasokan uang di masyarakat. Betulkah seperti itu?
Menurut saya, siklus terjadi karena cepatnya perubahan supply dan demand di suatu industri. Cepatnya perubahan demand mungkin disebabkan oleh faktor-faktor yang sulit diprediksi seperti bencana alam, perubahan cuaca, dsb. Cepatnya perubahan supply lebih menarik untuk dianalisa. Motivasi utama yang mendorong pelaku industri untuk dengan cepat mengubah supply adalah kompetisi dalam rangka mencapai keinginan untuk menjadi pemimpin di industrinya (market leader). Pelaku industri tidaklah bodoh (sering melakukan kesalahan dalam proyeksi demand) dalam menentukan supply. Mengapa mereka ingin menjadi leader? Karena menjadi leader menghasilkan premium tersendiri terhadap produk yang dijualnya. Sewaktu membeli HP, kenapa Anda membeli Nokia? Karena kebanyakan orang membeli nokia? Atau karena Anda telah membandingkan fitur-fitur Nokia dengan HP yang lainnya dan membandingkan harganya dengan HP yang lainnya? Yup, kebanyakan orang ingin membeli produk dari market leader.
Kenapa kompetisi untuk menjadi leader membuat perubahan supply produk menjadi cepat? Karena bila suatu perusahaan percaya bahwa produk barunya itu superior (entah karena teknologi baru, fitur baru, design baru, dll), maka ia akan melepas barang sebanyak-banyaknya untuk mematikan lawan usahanya. Ketika banyak dari mereka melakukan hal itu, tak khayal akhirnya hanya segelintir perusahaan yang akan sukses sementara supply melimpah dan harga-harga jatuh. Itulah saatnya industri secara keseluruhan (kecuali yang menang) lesu. Perusahaan yang kalah tutup, diambil alih, atau mengurangi biaya produksi dengan PHK dsb. Itulah masa konsolidasi. Lalu muncullah pemain-pemain baru dengan ide-ide atau teknologi baru dan berlomba-lomba untuk menjadi leader yang baru. Demikian proses berulang dan terjadilah siklus industri.
Siklus berbagai industri kadang-kadang terjadi bersamaan dan berkaitan dan membentuk siklus ekonomi secara keseluruhan.
Kalau hipotesa di atas benar, maka industri yang sulit untuk dimasuki (high entry barrier) tidak akan mengalami siklus yang berarti. Industri yang mudah dimasuki akan mengalami siklus yang serius dan lebih sering.
Pernyataan di atas membawa kita kepada pertanyaan: Apa yang membuat suatu industri sulit dimasuki pemain baru? Modal-kah? Teknologi-kah? Atau yang lain?
Apa relevansi dari mengetahui siklus industri? Itu akan membantu kita untuk memahami rotasi sektor di pasar saham.
Langganan:
Postingan (Atom)