Oleh: Andrew E.B. Tani
www.wartaekonomi.com
Pernahkah Anda melihat seseorang yang tengah mabuk ekstasi? Jika seseorang berada di bawah pengaruh obat tersebut, ia akan tripping, geleng-geleng kepala sambil tersenyum happy. Bukan hanya itu, dia pun menjadi tidak sadar penuh dengan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Dari sinilah kemudian muncul
istilah dalam bahasa Inggris: ego trip. Istilah itu merujuk kepada kondisi mabuk tadi. Persisnya, ego trip adalah suatu keadaan ketika seseorang tengah mabuk “ekstasi”, dan yang menjadi ekstasinya adalah kepuasan ego dari orang itu sendiri.
Menurut teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, pada setiap kepribadian manusia normal pasti ada ego. Selain ego sebagai sebuah sistem, ada dua sistem lain yang mendampinginya, yakni id dan superego. Ketiga sistem inilah yang membentuk kepribadian setiap individu. Id adalah bagian kepribadian yang tersembunyi, tetapi selalu menginginkan kepuasan, kesenangan, irasional, dan mementingkan diri sendiri. Adapun superego yaitu bagian dari kepribadian yang berkarakter menegakkan kebenaran, keadilan, serta selalu mengusulkan hal-hal yang baik. Superego tunduk kepada tuntutan moralitas.
Dalam hal ini, ego bertindak sebagai penengah. Ketika id dominan berkolusi dengan ego, dorongan negatiflah yang muncul. Sebaliknya, ketika ego berkolusi dengan superego, maka dorongan positiflah yang muncul. Namun, id tidak juga bisa dinafikan, karena pada dirinyalah ada dorongan untuk maju dan berkreasi, yang jika tak terkendali berhilir pada keserakahan. Maka, id, ego, dan superego merupakan tiga sistem dalam diri manusia yang apabila bersatu dengan harmonis akan timbul kestabilan. Sebaliknya, apabila terjadi ketidakseimbangan, akan menciptakan kelabilan pada manusia.
Menurut Freud, ego yang dewasa dapat melindungi diri seseorang, agar jangan sampai dibuat sengsara oleh lingkungannya (baca: disepelekan). Ego yang dewasa menemukan cara efektif untuk berinteraksi dengan orang lain, agar tumbuh dan menolong pertumbuhan orang lain, sehingga dirinya dapat bersumbangsih kepada masyarakat.
Orang yang mengalami ego trip sebenarnya sedang melayani dimensi psikis id-nya, sehingga ia merasa tanpa cela. Ia merasa superior. Kepada orang lain, ia akan tampak sedang diselimuti ketenangan, senang dengan dirinya sendiri. Namun, seperti efek obat ekstasi yang sementara, sesungguhnya kebahagiaan yang dirasakan orang itu adalah kebahagiaan semu, tidak nyata. Tentunya, sesuatu yang tidak nyata takkan bertahan dan takkan langgeng.
Contohnya adalah apa yang dialami para pemilik modal ketika pemerintah mengeluarkan Kebijakan Pakto 88, yakni deregulasi perbankan nasional yang meringankan persyaratan mendirikan bank umum. Ketika itu para pemilik modal memanfaatkan peluang tersebut untuk mendirikan bank. Kenyataannya, sepuluh tahun kemudian, banyak sekali bank bertumbangan. Itu berarti keputusan si Bos salah.
Bagaimana si Bos sampai pada keputusan yang sangat keliru? Ke mana saja para pembantu bijaksana yang ada dalam inner circle di seputar pemilik modal? Di antara mereka, pasti ada yang pro dan kontra. Jelas, yang menang adalah mereka yang “mengipas” kehausan id-nya si Bos. “Wah, berpredikat bankir kan lumayan,” tutur mereka. Ditambah dengan godaan memiliki sumber dana untuk membiayai kelompok usaha sendiri, runtuhlah si Bos.
Perilaku para Bos itu mirip orang yang tengah mabuk, lupa daratan, dininabobokan oleh rasa tersanjung, tergoda oleh peluang untuk terus meninggikan gengsinya. Kondisi demikian bisa dijelaskan dengan istilah ego trip itu tadi. Celakanya, ini semua terjadi tanpa ada orang dekat yang berani atau berhasil mengubah keputusan fatal yang akan diambil.
Dampak ego trip ialah seseorang menjadi “buta” atau “kebal” terhadap aspek lain dari keberadaan dia, seperti logika, kearifan, maupun perasaan orang lain. Superego-nya kalah, dan yang penting baginya adalah memuaskan id. Nah, kalau seseorang sedang dikuasai kepentingan memuaskan id di atas segalanya, orang itu akan mengekspose dirinya pada satu bahaya: ia menjadi mudah dikerjain atau dimanipulasi.
Bahaya itu biasanya datang dari orang lain yang tahu bahwa orang tersebut sedang mengalami ego trip. Orang lain itu biasanya orang dekat sekaligus ia percaya. Mereka dapat dengan mudah memanfaatkan situasi. Caranya? Orang yang sedang terserang ego trip itu dibuat bertambah mabuk dengan berbagai pujian dan elu-eluan. “Hebat! Luar biasa! You’re the best!” Setelah orang itu tambah mabuk, dia akan makin mudah dimanfaatkan.
Ada satu kombinasi yang berbahaya, yaitu ketika seseorang yang tengah mengalami ego trip lalu mendapat kekuasaan. Kekuasaan itu akan menjadi alat yang memperlama rasa bahagia semu yang dialami oleh ego yang tengah tripping. Misalnya, seseorang yang tengah dimabuk ego-nya tiba-tiba memperoleh banyak uang. Maka, dengan mudah orang yang tahu kelemahannya akan memanfaatkan pengidap ego trip tadi dan menguras uangnya.
Atau, seseorang yang baru saja mendapat jabatan yang strategis lalu terpicu ego trip-nya, maka dia akan menjadi individu yang berbahaya. Segala kebijakan dan rasionalitas akan mengalami distorsi. Dengan mudah dia akan dipengaruhi oleh orang yang hanya menginginkan sesuatu dari kekuasaannya. Bukankah sejarah penuh dengan penguasa mutlak yang terus dimanfaatkan oleh orang-orang dalam, inner circle, untuk kepentingan kelompok kecil mereka?
Di sinilah dibutuhkan seorang teman sejati yang harus menyadarkan kita. Kalau tak ada teman yang menyadarkan, yang akan membangunkan kita adalah satu perkembangan yang menyakitkan akibat kelalaian ataupun keputusan yang kita buat selagi mengalami ego trip. Alangkah bahagianya seseorang kalau memiliki kawan tulen yang bisa ngomong apa adanya. Di sinilah letaknya kita butuh kawan. Adalah kawan yang tulus, yang akan mengingatkan kita terhadap bahaya ego trip.
Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang mengalami ego trip atau tidak? Untuk mengetahuinya, ada sejumlah pertanyaan yang kalau dijawab dengan jujur akan dapat mengindikasikan apakah kita sedang mengalami ego trip atau tidak.
Pertama, kapan terakhir Anda ingat ada seseorang yang tulus ikhlas memberikan kritik demi kebaikan Anda? Kalau sudah lama, itu tanda-tanda Anda mengalami ego trip, karena mungkin orang cenderung menjilat Anda ketimbang mengatakan apa adanya.
Lalu, kalaupun ingat ada kritikan buat Anda, pertanyaan kedua, seberapa sering kritikan dari kawan atau orang dekat menghampiri Anda. Kedua hal itu menunjukkan mutu lingkungan di mana seseorang berada. Kalau dia berada di lingkungan orang-orang yang tulus terhadapnya, maka mestinya dia sering mendapat kritik atau paling tidak masukan berharga.Ketiga, kalau memang ada kritikan dan cukup sering, seberapa berbobot masukan yang disampaikan oleh kawan tersebut? Kalau masukannya sekadar saran pada penampilan, boleh jadi itu hanya bagian dari basa-basi pergaulan. Makin menyakitkan kritik atau masukan itu, maka bisa dikatakan makin berbobotlah masukan tersebut.
Maka, jangan kelilingi diri Anda dengan ”yes men”. Carilah kawan sejati. Dialah yang akan menyelamatkan Anda dari bahaya ego trip.
Jumat, 20 Juli 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar