Jumat, 20 Juli 2007

MEMBANGUN JASA MARGA MODERN

Ir. FRANS S SUNITO, Direktur Utama PT Jasa Marga (PERSERO)

MEMBANGUN JASA MARGA YANG MODERN


Sejak didirikan pada tahun 1978, Jasa Marga menjalankan tugas pemerintah untuk membangun dan mengoperasikan jalan tol di Indonesia. Hal ini ditegaskan pada UU No. 13/1980 bahwa Jasa Marga mempunyai wewenang tunggal dalam menyelenggarakan jalan tol. Namun pada akhir tahun 1980-an, sebagian besar jalan tol pembangunannya diserahkan pemerintah pada swasta yang kemudian atas nama pemerintah, Jasa Marga dijadikan lembaga otorisator sehingga terjadi benturan kepentingan dengan Jasa Marga sebagai perusahaan. Tahun 2004 dikeluarkan perundangan baru oleh pemerintah yaitu UU No. 38/2004 yang menegaskan Jasa Marga berubah peran dari Regulator menjadi Operator saja dan pelaksanaan otorisasi jalan tol dilakukan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sehingga untuk memperoleh pembangunan jalan tol baru Jasa Marga harus bekompetisi dengan pihak swasta. Dari perubahan peran tersebut menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kelangsungan hidup perusahaan dan untuk tetap menjadi leader dalam industri jalan tol, Jasa Marga harus memiliki daya saing yang tinggi dengan mengutamakan efisiensi, layanan yang bermutu serta SDM yang berpengetahuan dan memiliki keterampilan yang tinggi.

Bagaimana menjadikan JM untuk terus tumbuh dan berkembang ?

Kita akan menjadikan Jasa Marga sebagai pengembang dan operator jalan tol yang modern karena kita mempunyai pengalaman, pengetahuan, modal, asset yang besar dibandingkan dengan operator jalan tol lainnya di Indonesia sehingga Jasa Marga mempunyai potensi untuk terus tumbuh dan berkembang.

Bagaimana strategi menjadikan JM sebagai pengembang jalan tol dan operator yang modern ?

Kita hanya berinvestasi pada ruas jalan tol yang memiliki kelayakan finansial yang baik dan kita mengutamakan jalan tol yang merupakan lanjutan dari jalan tol yang sudah ada sehingga akan lebih efisien dalam pengoperasian dan meningkatkan volume lalu lintas pada jalan tol yang ada, Bekerja sama dengan pihak lain dalam memaksimalkan pembangunan dengan syarat kepemilikan saham Jasa Marga sebesar 50% dan untuk pengoperasiannya dilaksanakan oleh Jasa Marga.
Strategi utama agar perusahaan tumbuh dan berkembang dengan mendapatkan konsesi untuk jalan tol yang ada (diharapkan 40 sampai 45 tahun). Kita akan memanfaatkan jalan tol yang ada untuk memperoleh dana guna mengembangkan jalan tol baru dan jalan tol tersebut tetap kita yang mengoperasikan.

Bagaimana strategi memperoleh dana untuk mengembangkan ruas jalan tol baru ?

Rencana untuk membangun 3 ruas tol yang ditugaskan pemerintah Bogor Ring Road, Semarang-Bawen, dan Gempol-Pasuruan dengan total panjang 120 kilometer dibutuhkan investasi Rp 10 triliun untuk itu PT Jasa Marga (Persero) tengah mempelajari kemungkinan mendapatkan sumber pendanaan dengan menjual pendapatan ke depan atau diistilahkan future revenue selling. "Kita akan jual pendapatan ruas-ruas yang telah beroperasi untuk 10 tahun ke depan. Sistem menjual pendapatan ke depan itu untuk memperkuat pendanaan di samping rencana IPO yang telah mendapat persetujuan dari Menneg BUMN.
Melalui hasil IPO diharapkan dapat memperkuat permodalan yang pada akhirnya meningkatkan kapasitas pinjaman dengan rasio 1:3. Dengan demikian jika dari IPO mendapat Rp 1 triliun berarti kredit yang diperoleh bisa Rp 3 triliun.
PT Jasa Marga sendiri merencanakan untuk dapat melaksanakan IPO secara bertahap pada tahun 2007 ini sampai dengan 30 % namun menunggu harga yang paling baik saat dilepas nantinya.
Sementara rencana penerbitan obligasi, lebih ditujukan untuk membiayai pelunasan hutang (refinancing) yang dilaksanakan semester I 2006 dengan besaran yang belum diketahui (kemungkinan Rp2,5 triliun). Dari 75 % obligasi yang dikeluarkan PT Jasa Marga ditujukan untuk refinancing dalam arti saat pembangunan tol dibiayai bank sementara pelunasannya menggunakan obligasi.
Data keuangan menunjukkan 50-80 persen pendapatan operasi dipergunakan membayar bunga sekitar Rp 900 miliar dari total utang Rp 7,5 triliun. Pendapatan tahun 2004 Rp 1,9 triliun, 2005 Rp 2,4 triliun, sedangkan 2006 diharapkan Rp 2,5 triliun.

Bagaimana menjadikan JM sebagai operator jalan tol yang modern ?

Kita akan melakukan efesiensi dalam pengoperasian dan meningkatkan volume lalu lintas pada jalan tol yang ada, Kita akan mengganti peralatan tol yang sudah tua menjadi lebih modern sehingga potensial loss akan menjadi nihil dan kita juga akan memodernisasi peralatan pelayanan lalulintas dengan kamera CCTV, hal ini akan menjadikan tugas pelayanan lalulintas lebih efisien dan respone time dari penanganan gangguan akan lebih cepat dan tepat.
Keahlian kita dalam mengoperasikan jalan tol di Indonesia, tidak hanya kita gunakan dalam mengoperasikan jalan tol yang akan kita bangun tapi kita juga akan menawarkan keahlian kita dalam mengoperasikan jalan tol yang dibangun pihak swasta.

Dalam menghadapi perubahan peran JM dari regulator menjadi hanya operator saja dalam pengelolaan jalan tol di Indonesia, apa saja kekurangan – kekurangan dari segi internal perusahaan kita ?

Saya percaya seluruh jajaran JM siap menghadapi kompetisi dengan pihak swasta, walaupun selama ini kita memang tidak terbiasa atau tidak biasa untuk berkompetisi karena sebelumnya JM memegang monopoli pengelolaan jalan tol di Indonesia. Kita harus lebih kompetitif dengan syarat utama harus lebih efisien dan produktif. Artinya kita menghasilkan lebih banyak dengan biaya lebih sedikit.

Bagaimana dengan kekurangan dari sisi eksternal ?

Tantangan yang paling berat adalah soal lahan karena selama ini kita yang mengadakan dana untuk pembebasan lahan tetapi yang melaksanakan pihak lain sehingga kita tidak ada kontrol. Oleh karena itu dalam perjanjian-perjanjian kedepan saya minta kepada pemerintah, OK kita yang membebaskan lahan dan menyediakan dananya tetapi kita harus tahu berapa batas biayanya.

Bagaimana dengan rencana JM menjadi Holding dan membentuk anak perusahaan ?

Tahun ini yang kita Go Publikkan adalah Jasa Marga ditingkat Holding, karena itu yang paling cepat dapat kita lakukan pada saat ini yang sedang kita bicarakan dengan pemegang saham adalah meng-IPO-kan Jasa Marga pada tingkat holding bukan anak perusahaan. Mengapa demikian, karena untuk melepas jalan tol sebagai anak perusahaan masih banyak hal yang harus dibereskan terlebih dahulu. Tidak semudah itu kita bikin anak perusahaan terus kita jual sahamnya. Yang paling penting dalam meng-IPO-kan Jasa Marga bukan hanya ijin pemegang sahamnya saja tetapi, semua yang kita lakukan adalah untuk kemaslahatan dan kebaikan usaha bukan pula untuk gagah-gagahan dan bukan karena ada teman atau kerabat yang ingin membeli saham Jasa Marga.
Mengenai pembentukan anak perusahaan pada masa yang akan datang dapat kita bayangkan jalan tol yang sudah matang sebagai contoh antara lain Jagorawi, Cikampek dan Tangerang yang penghasilannya bisa dikatakan mempunyai basis income / pendapatan yang bisa menghidupi dirinya sendiri dengan baik sehingga sudah dapat dijadikan sebagai anak perusahaan. Seandainya nilai bukunya 40, sahamnya bisa kita Go Publikan sebesar 40% berarti kita yang mengendalikan dan mengoperasikannya. Nilai 40 ini uangnya tidak berarti 40 atau istilahnya price to book value / antara harga dengan nilai bukunya berbeda. Kita jual 40 mungkin nilainya bisa menjadi 70 berarti kelibihan 30. Masuk ke Holding, kelebihan 30 itu bisa kita gunakan untuk pembangunan jalan tol baru.

Bagaimana dengan kwalitas SDM JM saat ini ?

Kalau dikaitkan dengan harga kwalitas SDM kita bisa dikatakan agak mahal, tetapi pada saat ini
kwalitas SDM kita lebih baik dari pada Kompetitor lain. Untuk kedepan kita akan membuat sistem penilaian karyawan yang lebih baik dan kita tidak keberatan membayar gaji yang lebih tinggi untuk karyawan yang bekerja lebih baik sehingga ada perbedaan antara karyawan yang malas dengan yang rajin. Kalau saya katakana demikian, untuk karyawan yang sekarang ini non job karena tidak
ada pekerjaan, jangan takut dinilai tidak memiliki kinerja karena bukan dari itu kita menilainya. Kita akan menilai karyawan seutuhnya.

Apa pandangan dan harapan bapak tentang keberadaan SKJM ?

Bagi kami SKJM adalah serikat karyawan yang diharapkan menjadi partner dalam mencapai visi dan misi. Direksi tanpa karyawan tidaklah ada apa-apanya. Menurut kami karyawan adalah partner untuk mencapai visi dan misi Perusahaan.*****Swara SKJM HS 5258